Month: April 2014

Kencing Aja Bayar, Masa Obat TB Gratis?

“Dok, kalau ternyata nanti hasil pemeriksaan laboratorium saya menunjukkan kalau saya positif TB, apa yang harus saya lakukan dong?” tanya salah satu pasien saya di suatu balai pengobatan murah tempat saya bekerja.

“Sementara ini, kita memang masih harus menunggu hasil pemeriksaan dahak sebanyak tiga kali. Tapi, kalau seandainya memang terbukti positif, sebaiknya kita segera mulai pengobatan TB, Pak” balas saya.

“Obat TB itu yang harus diminum enam bulan itu ya, Dok? Lama juga ya…”

“Betul, Pak. Selama ini sih pasien-pasien saya yang lain banyak yang berhasil menyelesaikan pengobatannya. Kalau mereka bisa, saya yakin bapak pasti bisa juga”

“Bukan kenapa-kenapa, Dok. Saya lagi mikir, nanti gimana cara bayar obatnya. Enam bulan itu kan lama.”

“Oh, tenang saja. Obat TB itu gratis kok”

“Hah? Masa sih bisa gratis, Dok? Lah wong kencing saja bayar, masa obat TB bisa gratis?”


 

Itulah kelakar salah satu pasien saya ketika saya menginformasikan bahwa obat TB itu disediakan gratis. Setelah saya pikir-pikir, bapakini benar juga loh. Di dunia ini mana ada sih yang gratis? Kencing aja harus bayar, apalagi kesehatan? Di beberapa tempat di Indonesia (mulai dari WC mall hingga WC sekolah) kita masih harus membayar seribu hingga dua ribu perak setiap kali selesai menuntaskan karya seni (baca: pipis) di WC. Di Venezia, bahkan tarif WC adalah 3 euro atau sekitar 47.000 rupiah per hari.

Sebelum blog ini berubah menjadi iklan layanan masyarakat tentang WC umum, mari kita kembali membahas tentang TB. Di entry sebelumnya, kita telah membaca mengenai pasien TB ternyata ada di sekeliling kita. Kali ini kita bahas mengenai obatnya yuk!

ImageBeberapa lokasi membawa bisnis toilet umum ini menuju level berbeda. Sumber

(more…)

Setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah kuis iseng-iseng.

Bayangkan di hadapan Anda saat ini ada lima orang:

  1. Karyawan, 27 tahun, batuk 1 bulan, perokok aktif 1 bungkus sehari
  2. Tukang sapu jalanan, 33 tahun, batuk 1 bulan, kurus banget.
  3. Model, 17 tahun, cantik, langsing, batuk 1 bulan. Model tersebut masih single (oke, informasi ini nggak perlu sebenarnya),
  4. Dokter, 25 tahun, batuk 1 bulan, kurang tidur karena belakangan ini sering dinas malam
  5. Kakek 67 tahun, batuk 1 bulan, tinggal di pemukiman sempit dan padat.

5 orang

Di antara kelima orang tersebut, ada dua orang yang menderita tuberkulosis/TB. Pertanyaannya, siapa saja?

Anda punya waktu 1 menit untuk membaca lagi profil singkat kelima orang di atas dan menentukan siapa dua orang yang menderita TB.

. . .

. . .

Sudah?

 

Baiklah, kalau Anda mengatakan dua orang penderita TB itu adalah si tukang sapu jalanan dan si kakek, maka Anda sudah menjadi pelaku stereotiping terhadap pasien TB di negara ini.

Kenapa? Karena kuis di atas adalah pertanyaan jebakan. Jawaban yang benar adalah ‘tidak bisa ditentukan’.

Nah loh? Yuk kita simak pemaparannya di bawah ini.

(more…)

Buka mata. Melek TB sekarang.

Selamat datang di blog melek TB.

Blog ini dibuat dalam rangka memeriahkan kompetisi blog dengan bertema Temukan dan Sembuhkan Pasien TB

Blog sederhana ini akan memuat informasi seputar penyakit tuberculosis/TB. Postingan baru akan dimuat sesuai dengan jadwal dari kompetisi terkait.

 

Kenapa pilih nama ‘Melek TB’? Kenapa nggak yang lebih keren, seperti ‘Bumihanguskan Kuman TB Tanah Air demi Indonesia Bebas Batuk!’, kan lebih gagah?

Sederhana. TB adalah penyakit yang sudah ada di Indonesia sejak lama. Nyatanya, kita termasuk negara dengan populasi terinfeksi TB terbesar di dunia. Sayangnya, ini bukan hal yang bisa dibanggakan.

Lebih disayangkan lagi, masih banyak penduduk kita yang buta informasi kesehatan seputar TB ini, entah karena memang ketidaktahuan atau karena ketidakpedulian mengenai penyakit menular ini. Pada akhirnya, pasien TB menjadi korban ganda: sudah terinfeksi kuman TB, mereka malah diasingkan oleh masyarakat.

Berangkat dari hal tersebut, penulis mencoba untuk berpegang pada tagline berikut dalam penulisan:

Buka mata. Melek TB sekarang.

Lagipula, kalau pakai istilah bumihangus, bantai, musnahkan, kok kesannya kayak mau perang ya.

 

Apa sih hebatnya blog ini?

Bayangkan balon helium anak-anak warna-warni. Nah, seperti itulah blog ini: ringan, menarik, dan mudah dimengerti. Tidak akan banyak istilah medis yang membuat dahi berkerut. Tidak akan ada paragraf bertele-tele. Tidak akan ada pembaca menguap karena isinya yang datar dan membosankan.

KIta akan menyelami fakta TB di Indonesia melalui data, cerita, gambar, dan tentunya humor.

Semoga blog ini bisa mencapai visinya, yaitu membuat masyarakat yang melek internet juga menjadi melek TB.