Setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah kuis iseng-iseng.

Bayangkan di hadapan Anda saat ini ada lima orang:

  1. Karyawan, 27 tahun, batuk 1 bulan, perokok aktif 1 bungkus sehari
  2. Tukang sapu jalanan, 33 tahun, batuk 1 bulan, kurus banget.
  3. Model, 17 tahun, cantik, langsing, batuk 1 bulan. Model tersebut masih single (oke, informasi ini nggak perlu sebenarnya),
  4. Dokter, 25 tahun, batuk 1 bulan, kurang tidur karena belakangan ini sering dinas malam
  5. Kakek 67 tahun, batuk 1 bulan, tinggal di pemukiman sempit dan padat.

5 orang

Di antara kelima orang tersebut, ada dua orang yang menderita tuberkulosis/TB. Pertanyaannya, siapa saja?

Anda punya waktu 1 menit untuk membaca lagi profil singkat kelima orang di atas dan menentukan siapa dua orang yang menderita TB.

. . .

. . .

Sudah?

 

Baiklah, kalau Anda mengatakan dua orang penderita TB itu adalah si tukang sapu jalanan dan si kakek, maka Anda sudah menjadi pelaku stereotiping terhadap pasien TB di negara ini.

Kenapa? Karena kuis di atas adalah pertanyaan jebakan. Jawaban yang benar adalah ‘tidak bisa ditentukan’.

Nah loh? Yuk kita simak pemaparannya di bawah ini.

Buka mata! 

Kementrian kesehatan kita sangat serius dalam mengidentifikasi dan menyembuhkan TB. Bahkan, bukan hanya Indonesia saja yang heboh. Seluruh dunia bersatu untuk memerangi TB!

Bagi orang yang tidak tahu, mungkin mereka akan beranggapan “ah, lebay banget sih, cuma TB doang… Banyak tuh penyakit yang lebih berbahaya.”  Memangnya seberapa besar sih dampak TB? Berapa banyak orang yang terinfeksi kuman TB di muka Bumi? Satu juta orang? delapan juta orang? Lima puluh juta orang?

Dua milyar orang!

Ya, WHO melaporkan bahwa diperkirakan sepertiga dari seluruh penduduk dunia sudah terinfeksi kuman TB. Nah, tidak semua yang terinfeksi kuman TB tersebut otomatis akan jatuh sakit apalagi sampai batuk darah. Hanya sebagian kecil saja yang akan jatuh sakit.

Lalu bagaimana dengan tebak-tebak angka berhadiah di atas? Mungkin angka tersebut memiliki arti tertentu kan? Yuk kita lihat satu persatu.

Angka 8,6 juta orang adalah jumlah pasien baru yang dinyatakan sakit TB hanya di tahun 2012 saja (perlu ditekankan kalau ini yang dinyatakan sakit loh, bukan sekedar ‘terinfeksi’). Angka 1,3 juta orang adalah jumlah korban meninggal akibat TB dalam setahun. Sekali lagi, ini hanya di tahun 2012 saja lho.

Kalau Anda tidak terbayang, mari kita buat lebih sederhana. Masih ingat kasus pesawat Malaysia Airlines MH-370 yang mengalami kecelakaan? Nah, jumlah kematian di seluruh dunia akibat TB setiap harinya setara dengan lima belas kecelakaan pesawat.

 

TB di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, ternyata Indonesia mendapat peringkat empat sebagai negara dengan beban TB terbesar. Apakah kita harus malu atau berbangga dengan prestasi tersebut? Ini sih tergantung dari mana kita melihatnya.

Coba kita analogi dengan hal yang lebih mudah dimengerti. Bayangkan ada sebuah rumah yang memiliki banyak kecoa. Pemilik rumah tersebut meminta seorang ahli hama untuk mendeteksi dan menyingkirkan kecoa tersebut dari rumahnya. Di bulan tersebut, si ahli hama dan timnya yang terdiri dari 5 orang dapat menemukan 100 kecoa. Si ahli hama mengatakan bahwa tampaknya masih ada lebih banyak kecoa lagi di rumah tersebut, tapi mereka mengalami keterbatasan dalam mencarinya.

Setahun kemudian, pemilik rumah tersebut meminta bantuan ahli hama tersebut untuk mendeteksi kecoa di rumahnya lagi. Kali ini, si ahli hama membawa timnya yang terdiri dari 10 orang yang lebih terlatih dengan bantuan teknologi yang lebih mutakhir, dan mereka bisa menemukan 500 kecoa.

kecoa hunter

Pertanyaannya: apakah penemuan 500 kecoa tersebut lebih baik daripada penemuan 100 kecoa di tahun sebelumnya?

Kalau kita mengamati kisah tersebut, kita bisa menjawab dengan cukup yakin: ya! Artinya, di rumah tersebut memang sudah ada banyak kecoa. Hanya saja, di tahun kedua si ahli hama ini sudah lebih ahli menemukannya. Jadi, penemuan 500 kecoa itu bukan berarti karena kecoa berkembang biak menjadi lima kali lipat lebih banyak, tapi justru karena mereka bisa menemukan secara lima kali lebih efektif!

Kemampuan si ahli hama untuk menemukan kecoa ini bisa kita sebut sebagai case detection rate (CDR) alias angka penemuan kasus. Semakin tinggi CDR suatu negara, akan semakin baik.

Hal inilah yang terjadi di Indonesia. Kini kita tidak hanya melihat jumlah kasus dalam angka, tapi kita memantau seberapa baik kemampuan kita dalam menemukan kasus TB. Kita patut berbangga, karena ternyata Indonesia adalah negara pertama di antara negara-negara beban tinggi TB di wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target penemuan kasus dan penanganan kasus sampai sembuh loh!

Sebagai informasi, angka deteksi kasus di negara kita sebesar 78% loh. Di sisi lain, negara kita berhasil menyembuhkan sampai dengan 90% kasus yang terdeteksi, sehingga negara kita bisa menjadi contoh negara yang berhasil memerangi tuberkulosis!

 

Melek TB sekarang!

Sayangnya, penemuan kasus TB tidak semudah itu. Pasien TB tidak memiliki kertas yang menempel di jidatnya ‘Saya TB BTA positif loh’. Pada kenyataannya, banyak orang tidak menyadari dia terinfeksi TB sampai dirinya menjadi sakit karena TB. Nyatanya, banyak pasien yang datang berobat dalam kondisi sakit berat karena ketidaktahuannya.

Lebih memprihatinkannya lagi, sebagian besar orang yang terinfeksi atau sakit TB ini berada dalam usia produktif. Orang yang terinfeksi TB ini akhirnya menjadi sumber masalah lagi: di satu sisi mereka bisa menjadi kesulitan bekerja karena penyakitnya dan di sisi lain mereka berpotensi untuk menularkan ke 10 hingga 15 orang lain setiap tahunnya.

Kalau informasi tersebut belum cukup membuat pilu, ingat bahwa mereka yang sakit dan menularkan kuman TB ke orang lain tersebut bahkan mungkin tidak menyadari dirinya sakit. Orang-orang ini ada di sekeliling Anda. Inilah mengapa artikel yang Anda baca ini mengambil judul ‘setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!’

 

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Jawabanya adalah deteksi dini. Jika memang ketidaktahuan adalah salah satu sumber masalah tersebut, maka jalan keluarnya adalah kita harus mau mencari tahu. Untungnya, gejala TB ini mudah untuk dimengerti dan dideteksi. Anda tidak perlu menjadi seorang profesor di bidang infeksi tropis untuk mengenalinya gejalanya:

  • batuk selama lebih dari 3 minggu, apalagi sampai mengeluarkan dahak bercampur darah
  • menghilangnya nafsu makan
  • penurunan berat badan
  • keringat malam
  • demam lama

gejala tb

Dalam satu hari kita mungkin bertemu dengan ratusan orang. Tentu saja tidak mungkin kita menanyakan mereka satu-persatu gejala di atas. Selain tidak efektif, hal itu akan membuat kita tampak seperti orang mencurigakan. Salah-salah, kita bisa dituduh menjadi tukang tipu atau komplotan copet.

Setidaknya kita bisa mulai dari orang-orang terdekat kita: teman-teman, rekan kerja, keluarga, dan orang-orang terdekat yang kita cintai. Apabila ada dari mereka yang menunjukkan gejala di atas, ajak mereka diskusi. Kemudian, sarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Nantinya dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mencari tahu apakah benar terdapat orang tersebut terinfeksi kuman TB.

Kalaupun pada akhirnya orang tersebut memang terbukti terjangkit dengan TB, ini bukanlah akhir dunia bagi mereka. TB bisa disembuhkan. TB sangat bisa disembuhkan. Ingat, di Indonesia angka kesembuhan untuk TB mencapai 90%, asalkan si pasien mau minum obat sampai tuntas. Untuk mencapai hal ini, mungkin diperlukan adanya pengawas minum obat untuk memastikan pasien meminum obatnya secara teratur.

Untuk menutup artikel ini, penulis memiliki kabar buruk dan kabar baik untuk Anda. Kabar buruknya, saat ini pun Anda mungkin terinfeksi TB tanpa Anda ketahui. Kabar baiknya, banyak orang terinfeksi TB tanpa pernah mengalami gejala TB atau sakit TB seumur hidupnya. Maka, Anda tidak perlu panik. Yang penting tetap jaga kesehatan dan waspada dengan gejala di atas. Pada orang yang bisa menjalani pola hidup sehat dengan baik, risiko untuk mengalami sakit TB akan jauh berkurang.

Artikel mengenai pemeriksaan yang dilakukan, obat yang diminum, pengawas minum obat, dan lainnya akan kita bahas di seri selanjutnya. Tunggu ya.

 

Catatan penulis:

Oh iya, mengenai kuis di atas. Jawabannya adalah ‘tidak bisa ditentukan’, karena siapapun bisa terkena TB. Baik orang tersebut tua atau muda, laki-laki atau perempuan, supermodel atau tukang sapu, gemuk atau kurus, perokok berat atau dokter, semua bisa terkena. Sebagai dokter, penulis mengenal beberapa rekannya sesama dokter yang mengidap TB dan sudah menjalani pengobatan sampai sembuh. Saat ini pun ada seorang pemuda, sahabat karibnya yang sering berolahraga bersama, diketahui memulai pengobatan TB memasuki bulan ketiga.

 

Referensi:

1. “Identifikasi dan Obati, Mari Ciptakan Dunia yang Bebas TB.” Depkes RI. 18 April 2013. <http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2280&gt;
2. “10 facts about tuberculosis.” WHO. Maret 2014. <http://www.who.int/features/factfiles/tuberculosis/en/&gt;
3. “Kemitraan Profil Indonesia.” Kementrian Kesehatan RI. Diakses 4 April 2014. <http://www.tbindonesia.or.id/indonesian-country-profile-partnership/&gt;
4. “Indonesia Menjadi Contoh Keberhasilan Negara Memerangi Tuberkulosis”. Depkes RI. 18 Agustus 2013. <http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2381&gt;
5. “Apa itu TB?” Kementrain Kesehatan RI. Diakses 4 April 2014. <http://www.tbindonesia.or.id/epidemiologi-tb-indonesia/&gt;
6. “Fast Facts on Tuberculosis.” Stop TB Partnership. Diakses 4 April 2014. <http://www.stoptb.org/resources/factsheets/fastfacts.asp&gt;

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s