Month: May 2014

TB Kebal Bikin Sebal

Saya punya sebuah cerita…

Suatu ketika, bumi diserang oleh sekelompok alien. Jumlah pastinya tidak ada yang tahu pasti, walau diperkirakan kawanan mereka ada sekitar dua puluhan orang, atau ekor, atau sosok, atau entah satuan apapun yang digunakan untuk menyebut mereka.

Gambar alien dipinjam dari sini

Gambar alien dipinjam dari sini (gambar hanya sebagai ilustrasi saja, alien asli mungkin lebih seram dari ini)

Kedatangan alien ini membuat kekacauan besar di muka bumi. Rakyat bumi ketakutan karena alien tersebut sangat ganas dan menyebabkan kematian pada banyak sekali penduduk bumi dalam waktu singkat. Maka itu, mereka memilih satu orang di antara mereka, orang yang paling kuat dan cerdas untuk melawan para alien tersebut.

Pemburu ini datang ke goa yang menjadi sarang para alien tersebut untuk mengusir mereka. Untuk berjaga-jaga, dia membawa sebuah pistol kecil dengan amunisi terbatas. Ketika sampai di gerbang sarang tersebut, sudah bisa diperkirakan bahwa para alien tidak senang dengan kehadiran pemburu ini. Mereka pun mulai melakukan perlawanan untuk mengusir pria tersebut.

Pemburu ini dengan cepat menghindari serangan dari para alien tersebut dan dengan sigap dia melepaskan timah panas ke arah para alien. Satu persatu alien mulai tumbang! Namun, karena pelurunya terbatas, pemburu ini pun berhenti melepaskan tembakan ke arah para alien. Alien yang tersisa tinggal berjumlah setengahnya, lalu mereka melarikan diri ke goa lain untuk bersembunyi.

Selama persembunyiannya, para alien ini mulai belajar dari kekalahan komplotan mereka sebelumnya. Mereka mulai mengembangkan organ tubuhnya. Selama beberapa hari mereka berupaya agar lapisan luar tubuhnya menjadi lebih keras dan tahan dengan peluru buatan manusia. Ketika mereka merasa sudah siap, para alien pun kembali menyerang desa para manusia.

Pemburu alien yang sudah memperkirakan kembalinya para alien tersebut kembali menghadang mereka dan dengan lincah dia menembakkan peluru demi peluru ke arah para alien tersebut. Tapi, tidak terukir senyum kemenangan di wajah pemburu tersebut.

Para alien telah kebal dengan pelurunya. Kulitnya yang keras telah mementalkan peluru-peluru tersebut. Timah panas yang dulu ampuh untuk menembus kulit mereka, kini bagaikan kapas yang teronggok lemah.

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Pemburu ini pun tidak kehabisan akal. Dengan sigap dia langsung menuju ke tempat penyimpanan senjata, mengambil senapan mesin, lalu menembakkan senapan mesin tersebut secara bertubi-tubi ke para alien. Siasatnya berhasil! Satu persatu alien mulai lumpuh. Alien yang tersisa mulai melarikan diri. Pemburu ini tahu apa yang akan terjadi selanjutnya: alien yang gagal dihabisi tersebut akan menjadi makin kuat, dan si pemburu memerlukan senjata yang semakin kuat untuk melawan mereka. Hari ini dia menggunakan senapan mesin, sedangkan di waktu selanjutnya mungkin dia memerlukan bazooka untuk melawan mereka.

Dalam hatinya dia berpikir, andai saja dari awal dia menghabisi para alien tersebut ketika mereka masih lemah dengan senjata paling sederhana, maka hal ini tidak perlu sampai terjadi.

 

Buka mata: TB kebal obat mengancam kita!

Ganti istilah ‘alien‘ di atas menjadi ‘kuman TB‘, dan ganti istilah ‘senjata‘ menjadi ‘obat TB‘. Anda baru saja membaca sebuah analogi mengenai bagaimana terjadi kuman tuberculosis yang kebal terhadap obat.

Mengapa kuman TB bisa menjadi kebal terhadap obat-obatan yang seharusnya membunuh mereka? Beginilah kira-kira penjelasan singkatnya.

mengapa resisten

Tuberculosis disebabkan oleh bakteri. Maka dari itu, kita memberikan obat berupa antibiotik (misalnya dalam bentuk FDC yang sudah dibahas di artikel sebelumnya). Mekanisme normal yang seharusnya terjadi adalah sebagai berikut:

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

Nah, dalam beberapa kondisi, pengobatan TB mungkin belum selesai tapi sudah dihentikan. Hal ini memberi kesempatan pada kuman TB untuk menjadi lebih kuat dan kebal terhadap obat yang dulu hampir membunuhnya.
Kemudian, hal inilah yang terjadi:

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

 

(more…)

Advertisements

Sembuhkan TB, Kembalikan Senyum Mereka!

Anda hanya punya satu jalan akhir: kematian

Selamat datang di kota ini.

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Gambar dari http://hardluckasthma.blogspot.com/2012/07/history-of-tuberculosis-part-2.html

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Sumber gambar dari sini.

Di hadapan Anda adalah seseorang yang memiliki penyakit infeksi pada parunya. Dia mengalami batuk disertai darah selama bertahun-tahun. Keluarganya telah membawanya ke semua ahli pengobatan di daerah tersebut, tetapi semuanya angkat tangan.

“Penyebabnya adalah bakteri yang sangat berbahaya,” kata dokter terakhir yang mencoba menanganinya. “Saya belum pernah bertemu dengan kasus seburuk ini.”

“Apapun akan kami berikan asal dokter bisa mengobatinya,” ucap anak mereka. Keluarganya tak bisa menahan isak tangis yang memilukan

“Maaf sekali,” dokter tersebut menggeleng kepalanya. “Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Tidak ada seorang pun yang pernah berhasil disembuhkan dari penyakit berbahaya ini.”

Semakin hari keadaan si pasien semakin melemah. Keluarganya hanya mendapatkan informasi bahwa kondisi ayah tercinta di keluarga mereka tersebut diakibatkan sebuah kuman bernama Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut berukuran kecil. Sangat kecil. Mata manusia tidak akan sanggup mengidentifikasi keberadaan kuman tersebut.

Namun, kuman kecil tersebut telah menumbangkan ayah mereka. Ayah mereka adalah seorang pekerja yang tangguh dan gigih dalam bekerja. Tanyakan kepada anak-anaknya, mereka akan mengatakan bahwa ayah mereka sangat gagah. Tapi, kini mereka harus menerima kenyataannya: sang ayah telah kalah oleh bakteri kecil yang tidak bisa disembuhkan.

 

Buka Mata: TB tidak bisa disembuhkan?

Cerita di atas hanya rekaan penulis saja. Tapi, percayakah Anda bahwa kondisi serupa di atas benar-benar mungkin terjadi? Benarkah kuman TB yang kecil tersebut tidak bisa disembuhkan, dan siapapun yang terkena kuman tersebut akan mengalami penderitaan dan kematian yang memilukan?

Jawabnya adalah ya, jika Anda hidup di abad ke-19. Pada masa itu, perkembangan dunia kedokteran belum sepesat sekarang baik dalam hal deteksi penyakit maupun dalam pengobatan. Akibatnya, pengetahuan akan TB pun sangat minim dan penyakit ini dianggap sangat mematikan dan berbahaya.

(more…)