Sembuhkan TB, Kembalikan Senyum Mereka!

Anda hanya punya satu jalan akhir: kematian

Selamat datang di kota ini.

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Gambar dari http://hardluckasthma.blogspot.com/2012/07/history-of-tuberculosis-part-2.html

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Sumber gambar dari sini.

Di hadapan Anda adalah seseorang yang memiliki penyakit infeksi pada parunya. Dia mengalami batuk disertai darah selama bertahun-tahun. Keluarganya telah membawanya ke semua ahli pengobatan di daerah tersebut, tetapi semuanya angkat tangan.

“Penyebabnya adalah bakteri yang sangat berbahaya,” kata dokter terakhir yang mencoba menanganinya. “Saya belum pernah bertemu dengan kasus seburuk ini.”

“Apapun akan kami berikan asal dokter bisa mengobatinya,” ucap anak mereka. Keluarganya tak bisa menahan isak tangis yang memilukan

“Maaf sekali,” dokter tersebut menggeleng kepalanya. “Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Tidak ada seorang pun yang pernah berhasil disembuhkan dari penyakit berbahaya ini.”

Semakin hari keadaan si pasien semakin melemah. Keluarganya hanya mendapatkan informasi bahwa kondisi ayah tercinta di keluarga mereka tersebut diakibatkan sebuah kuman bernama Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut berukuran kecil. Sangat kecil. Mata manusia tidak akan sanggup mengidentifikasi keberadaan kuman tersebut.

Namun, kuman kecil tersebut telah menumbangkan ayah mereka. Ayah mereka adalah seorang pekerja yang tangguh dan gigih dalam bekerja. Tanyakan kepada anak-anaknya, mereka akan mengatakan bahwa ayah mereka sangat gagah. Tapi, kini mereka harus menerima kenyataannya: sang ayah telah kalah oleh bakteri kecil yang tidak bisa disembuhkan.

 

Buka Mata: TB tidak bisa disembuhkan?

Cerita di atas hanya rekaan penulis saja. Tapi, percayakah Anda bahwa kondisi serupa di atas benar-benar mungkin terjadi? Benarkah kuman TB yang kecil tersebut tidak bisa disembuhkan, dan siapapun yang terkena kuman tersebut akan mengalami penderitaan dan kematian yang memilukan?

Jawabnya adalah ya, jika Anda hidup di abad ke-19. Pada masa itu, perkembangan dunia kedokteran belum sepesat sekarang baik dalam hal deteksi penyakit maupun dalam pengobatan. Akibatnya, pengetahuan akan TB pun sangat minim dan penyakit ini dianggap sangat mematikan dan berbahaya.

Hah? Abad ke-19? Memang sudah sejak kapan sih kuman TB itu ada?

Sampai sekarang, belum diketahui pasti sejak kapan TB pertama kali muncul di muka bumi. Tapi, bukti-bukti arkeologi memperkirakan bahwa kuman TB sudah ada sejak sekitar 15.000 hingga 20.000 tahun lalu. Kuman TB ini bahkan ditemukan pada tulang mumi dari Mesir. Tua banget ya?

Kuman Mycobacterium tuberculosis berwarna merah muda. Sumber gambar dari sini.

Walau sudah ada sejak lama, tapi periode terburuk TB di dunia adalah pada sekitar abad ke-18 di Eropa Barat. Pada saat itu. TB menyebabkan kematian sampai dengan 900 kematian per 100.000 jiwa. Kalau mau disederhanakan, artinya di jaman itu setiap 110 orang, satu orang di antaranya meninggal karena TB! Selain karena pengetahuan yang masih buruk akan penyakit tersebut, hal ini diperparah dengan padatnya dan buruknya kondisi perumahan pada masa itu, disertai dengan buruknya kebersihan dan kekurangan gizi. Pada saat itu, penyakit ini dikenal dengan ‘wabah putih’ atau ‘white plague‘ karena orang yang mengidap TB akan menjadi pucat.

Perlahan-lahan, pengetahuan seputar kuman TB ini mulai tersingkap. Bayangkan, awalnya ada sebuah penyakit yang menggerogoti kesehatan tubuh yang tidak pernah diketahui sebabnya, lalu akhirnya ada ilmuwan yang berhasil menemukan biang keladi masalah tersebut. Ilmuwan tersebut adalah Robert Koch, yang berhasil menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882, lebih dari seratus tahun silam!

Atas perannya dalam meneliti kuman TB ini, beliau mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang kesehatan pada tahun 1905. Dua puluh tahun lebih berkarya dan mendapat hadiah Nobel, sebuah dedikasi yang luar biasa. Salut untuk Robert Koch!

Gimana riwayat pengobatan TB?

Setelah penyakit ini dimengerti, banyak peneliti yang berlomba untuk menyembuhkan TB. Kuman yang satu ini bisa dibilang memang bandel luar biasa, sangat sulit diatasi dan mudah menular di kondisi padat. Berkaca dari sini, orang-orang mulai membuat tempat isolasi yang disebut sanatorium, di mana pasien yang dicurigai mengidap TB akan dipisahkan dalam tempat yang lebih segar dalam ruangan terbuka. Selain agar penderitanya memiliki tempat yang lebih nyaman, hal ini juga untuk mencegah penularan TB ke anggota keluarga lain.

Salah satu sanatorium tuberkulosis di tahun 1900-an dalam gambaran kartu pos. Gambar dari http://www.rootsweb.ancestry.com/~nyononda/hospitals/ononsanatorium.jpg

Salah satu sanatorium tuberkulosis tahun 1900-an dalam gambar kartu pos. Sumber gambar dari sini.

Sanatorium saja ternyata tidak cukup untuk menyembuhkan pasien. Walaupun sudah diketahui bahwa penyebabnya adalah bakteri, tetap saja antibiotika di masa tersebut tidak mampu menyembuhkan TB. Ketika akhirnya obat yang diberi nama streptomisin ditemukan pada tahun 1944, maka masyarakat dunia melihat adanya masa depan yang cerah. Pasalnya, streptomisin ini adalah obat antibiotika pertama dan satu-satunya yang efektif terhadap kuman Mycobacterium tuberculosis di masa itu. Pesannya jelas: kuman TB bisa dikalahkan!

Obat ini masih banyak mengalami hambatan, karena ternyata tidak semua pasien TB mengalami kesembuhan hanya dengan Streptomisin saja. Pengobatan TB masih terus dikembangkan dan akhirnya pada tahun 1952 ditemukan adik-nya Streptomisin, yang diberi nama Isoniazid (INH). Selanjutnya, muncul lagi adik kecil lain bernama Rifampisin. Kombinasi penggunaan obat ini menjadi era modern pengobatan TB di muka bumi.

Apakah hasilnya sukses?
Pada tahun 1980-an, penderita TB berkurang drastis. Pada titik ini, kita sudah berhasil memberikan perlawanan pada Mycobacterium tuberculosis, si kuman kecil yang bandel. Salut untuk para peneliti yang berjuang memerangi kuman ini!

Selmean Waksman dan Albert Schatz, keduanya penemu Streptomisin yang membuka jalan bagi pengobatan TB modern. Sumber gambar dari sini

Selmean Waksman dan Albert Schatz, keduanya penemu Streptomisin yang membuka jalan bagi pengobatan TB modern. Sumber gambar dari sini

 

Melek TB sekarang: Kenapa masih banyak kasus TB di Indonesia?

Kisah perjuangan para ilmuwan di atas tentu membuat kita tercengang. Kita telah berhasil membalikkan keadaan dari kondisi tidak berdaya melawan kuman TB hingga berhasil menyembuhkan TB. Pertanyaannya: kalau begitu, mengapa masih ada TB? Mengapa kuman tersebut tidak bisa dihilangkan sepenuhnya?

Kekebalan terhadap obat, itulah jawabannya.

Bahkan sejak awal obat TB dikembangkan, para peneliti mulai menemukan bahwa kuman Mycobacterium tuberculosis ini sangat mudah mengembangkan kekebalan terhadap obat yang membunuhnya. Kekebalan ini lebih cepat muncul apabila obat diberikan dalam dosis yang kurang adekuat atau apabila obat diminum dalam waktu singkat. Itulah alasan mengapa obat TB harus diminum sesuai dengan dosisnya dan dalam waktu yang sudah ditentukan yaitu minimal enam bulan.

Hal ini dialami semua negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sendiri. Hal ini bukan asumsi semata, tapi berdasarkan data. Ya, beban TB di Indonesia masih tinggi. Penyebabnya pun bisa dibilang multifaktorial, mulai dari pengobatan yang tidak tuntas, mudahnya penularan di daerah yang padat penduduk, dan terutama justru adalah ketidaktahuan masyarakat bahwa dirinya menderita TB. Maka dari itu, deteksi dini merupakan salah satu pilar utama yang sangat penting dalam pencegahan TB.

Daerah kumuh di Indonesia yang menjadi tempat paling mudah untuk penularan TB. Gambar dari sini

Daerah kumuh di Indonesia yang menjadi tempat paling mudah untuk penularan TB. Gambar dari sini

Penyakit tuberkulosis yang kebal dengan obat antimikroba isoniazid dan rifampicin dikenal dengan nama MDR-TB (Multi Drug Resistent). Pasien yang sudah mengalami MDR-TB ini sudah tidak mempan diberikan obat standar TB sehingga harus menggunakan obat golongan lain dan memerlukan waktu pengobatan yang lebih lama. Berikut ini adalah data sederhana kasus MDR TB di dunia:

Gambaran MDR-TB alias TB yang sudah kebal dengan obat-obatan antibiotika. Data menunjukkan bahwa hampir seluruh dunia sudah terpapar dengan kuman TB yang kebal terhadap pengobatan, terutama di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Data dari WHO

Gambaran MDR-TB alias TB yang sudah kebal dengan obat-obatan antibiotika. Data menunjukkan bahwa hampir seluruh dunia sudah terpapar dengan kuman TB yang kebal terhadap pengobatan, terutama di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Data dari WHO

Jadi, apakah TB bisa disembuhkan?
Ya. TB bisa disembuhkan. TB sangat bisa disembuhkan.

Apakah ada syaratnya?
Ya. Obat TB harus diminum sesuai dosis dan dalam waktu yang sudah ditentukan. Apabila obat TB diminum secara asal-asalan, maka sama saja dengan memberi kesempatan bagi kuman Mycobacterium tuberculosis untuk menjadi kebal terhadap obat! Bahayanya, kalau kuman tersebut sudah keburu kebal maka pengobatannya akan jauh makin rumit!

 

Jadi, TB bisa sembuh?

Konon, satu gambar mengisahkan seribu kata. Di bawah ini adalah gambaran pasien dengan TB sebelum dan sesudah pengobatan yang akan mengisahkan banyak hal bagi Anda sekalian

Salah seorang pasien TB bernama Joseph yang senyumnya kembali setelah pengobatan TB. Sumber gambar dari sini

Suchitra Lakra, salah satu pasien TB yang senyumnya berhasil dikembalikan. Gambar dari http://www.howrahtb.com/Tuberculosis%20Photo.html

Suchitra Lakra, salah satu pasien TB yang senyumnya berhasil dikembalikan.

Noorjadi, pasien TB lain yang senyumnya berhasil dikembalikan

Noorjadi, pasien TB lain yang senyumnya berhasil dikembalikan. Kedua gambar di atas dari sini 

Entah sudah berapa juta orang yang direnggut senyumnya oleh kuman Mycobacterium tuberculosis ini. Perlahan, kita bisa berjuang untuk mengembalikan senyum mereka satu persatu. Temukan kasus di sekeliling Anda, ajak mereka untuk berobat, dukung mereka. Inilah saatnya kita bersuara bersama:

Sembuhkan TB, Kembalikan Senyum Mereka!

 

Referensi:

1. Ananya Mandal, MD. History of Tuberculosis. Diunduh dari http://www.news-medical.net/health/History-of-Tuberculosis.aspx
2. Terry Sharer. The Discovery of Streptomycin. Diunduh dari http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/25252/title/The-discovery-of-streptomycin/
3. Antara News. Beban TB di Indonesia Masih Tinggi. Diunduh dari http://www.antarajambi.com/berita/303217/beban-tb-di-indonesia-masih-tinggi
4. World Health Organization. http://www.who.int/3by5/treatmentworks/en/
5. Howrah TB. Tuberculosis treatment before and after patient photo. Diunduh dari http://www.howrahtb.com/Tuberculosis%20Photo.html

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s