TB dan HIV: double trouble

Di artikel-artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai bagaimana TB menular, bagaimana penyembuhannya, sampai bagaimana kuman TB bisa kebal obat. Di artikel ini, kita akan membahas mengenai dua mikroorganisme yang sudah lama menjadi sahabat karib, tapi merupakan musuh bebuyutan kita yaitu virus HIV dan kuman Mycobacterium tuberculosis.

 

Lho, apa nyambungnya kuman TB sama virus HIV? 

Dari penampakan mereka berdua saja kita sudah tahu kalau mereka memiliki rencana jahat bagi umat manusia. (koleksi pribadi)

Dari penampakan mereka berdua saja kita sudah tahu kalau mereka memiliki rencana jahat bagi umat manusia. (koleksi pribadi)

Anda pasti sudah pernah mendengar kedua nama tersebut. Kuman TB, seperti yang sudah kita ketahui, adalah kuman kecil yang menyerang manusia secara keroyokan, terutama di paru. Akibatnya, orang tersebut berpotensi mengalami penyakit tuberculosis paru, dengan gejala batuk lama, berat badan turun drastis, tidak nafsu makan, sampai menyebabkan kematian, terutama apabila orang tersebut berada dalam kondisi kekebalan tubuh yang rendah.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah nama virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Orang yang terkena virus HIV ini akan mengalami penurunan kekebalan tubuh secara bertahap, sampai akhirnya mencapai tahap akhir yang dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Singkatnya, orang yang sudah berada di tahap AIDS ini kekebalan tubuh alamiahnya sudah sedemikian rendah sehingga sangat mudah terserang penyakit.

Bayangkan saja apabila ada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) sedang jalan di tempat umum, lalu ada orang batuk atau bersin ke arah mereka. Wah, tak lama kemudian ODHA ini bisa langsung tertular penyakit dari orang tersebut.

Apa yang pertama kali terpikir oleh Anda ketika mendengar HIV?

Mungkin Anda akan berpikir HIV berhubungan dengan hal yang jijik, kotor, dan tabu. Bagaimana tidak, iklan anti HIV sudah disuarakan sejak dulu dan kita semua sudah tahu apa saja yang berhubungan dengan HIV: hubungan seksual tidak aman, pengguna narkotika, dan pasangan homoseksual. Menurut data, angka penularan HIV tertinggi masih dipegang oleh hubungan seksual tidak aman (78,4%), pengguna narkotika suntik dengan jarum tidak steril (14,1%), pasangan homoseksual (2,5%), dan penularan langsung dari ibu ke bayi (4,1%).

Beberapa cara penularan HIV. Sumber gambar

Beberapa cara penularan HIV. Sumber gambar

Penularan virus HIV ini terjadi melalui pertukaran cairan tubuh. Namun, tidak berarti semua cairan tubuh akan menularkan virus HIV. Feses, urine, air liur, cairan hidung, air mata, keringat, atau muntahan tidak menularkan HIV karena tidak terdapat cukup banyak virus di dalamnya.

Lalu apa dong yang harus kita lakukan pada ODHA?
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat dunia masih melihat ODHA sebagai sosok yang menjijikkan dan kerap mengalami diskriminasi masyarakat. Inilah yang ingin diubah! Itulah mengapa tiap 1 Desember, seluruh dunia merayakan hari AIDS. Tujuannya tentu bukan untuk menyebarkan AIDS ke mana-mana, tapi justru untuk membuka mata kita mengenai AIDS. Yang terpenting, kita diminta untuk berempati dengan ODHA. Maka dari itu, bergema slogan ‘Jauhi Penyakitnya Bukan Orangnya‘.

Buka Mata: TB dan HIV, Double Trouble

Kombinasi infeksi TB dan HIV ini disebut sebagai ‘ko-infeksi’. Singkatnya, kekebalan tubuh pada ODHA akan sangat rendah. Pada kondisi ini, kuman TB akan mengambil kesempatan untuk memunculkan gejala-gejala infeksi yang lebih berat. Itulah mengapa ODHA yang terinfeksi dengan tuberculosis akan menunjukkan gejala klinis yang lebih berat daripada orang tanpa HIV/AIDS.

Nah, di artikel sebelumnya kita sudah melihat bagaimana kuman TB sangat mudah menular. Bahkan, cukup banyak orang yang sudah terpapar dengan kuman TB tapi tidak menunjukkan gejala karena memiliki kondisi kesehatan dan kekebalan tubuh yang baik.

Pada ODHA dengan kekebalan tubuh yang rendah, infeksi tuberculosis adalah salah satu infeksi yang tersering. Risiko TB laten (TB tanpa gejala) berkembang menjadi TB aktif (TB dengan gejala) pada pasien ODHA meningkat sampai dengan 20 kali lipat. Hal ini berarti mereka lebih mudah mengalami penyakit TB dan juga lebih mudah untuk menularkan kepada orang lain, yang berujung pada semakin sulitnya memutus rantai penyebaran TB

Gambaran mengenai TB dan HIV di dunia. Sumber gambar

Gambaran mengenai TB dan HIV di dunia. Sumber gambar

Nelson Mandela pada tahun 2004 juga pernah menyatakan bahwa umat manusia tidak akan bisa melawan AIDS tanpa melawan TB. Menurutnya, para ODHA yang ternyata terinfeksi TB sama saja seperti mendapat vonis hukuman mati, karena memang kedua penyakit ini saling memperburuk kondisi satu sama lainnya.

Karena tingginya angka ko-infeksi TB dan HIV ini, maka semua pasien HIV disarankan untuk segera menjalani pemeriksaan untuk mencari apakah ada infeksi TB juga. Demikian juga sebaliknya, Permenkes 2013 juga menyarankan agar pasien TB ditawarkan untuk menjalani pemeriksaan HIV. Pasalnya, kalau telat diketahui maka perburukannya akan cepat terjadi.

 

Melek TB Sekarang: Lalu, memangnya kalau sudah ketahuan mau diapakan?

Ya tentu saja diobati. Ko-infeksi TB dan HIV yang dipaparkan di atas memang terdengar menyeramkan. Tapi, artikel ini tidak bertujuan untuk menakut-nakuti atau membuat Anda makin menyingkirkan ODHA. Artikel ini bertujuan untuk membuka mata kita, bahwa HIV dan TB adalah duet maut (secara harafiah) yang tidak bisa kita anggap remeh.

Di sisi lain, bukan berarti tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya. TB bisa disembuhkan dengan OAT dan obatnya bisa diperoleh secara gratis. HIV belum bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol dengan obat ARV (Anti Retro Viral) agar kadar virusnya tetap rendah dan tidak menimbulkan perburukan dengan cepat. Obat ARV ini pun bisa didapat secara gratis.

Jadi, ODHA dengan HIV pun bisa kita selamatkan. Pihak medis bisa memberikan kedua golongan obat tersebut, walau tidak diberikan secara bersamaan. Umumnya, OAT akan diberikan terlebih dahulu, setelah itu baru akan diberikan ARV untuk menekan kadar virus dalam tubuh ODHA.

Apakah semudah itu? Jelas tidak! Kita masih berhadapan dengan beberapa tantangan utama dalam pengendalian TB dan HIV.

Pertama, kita perlu membuka mata mengenai fakta ko-infeksi TB-HIV ini. Setelah itu, semua pihak harus berkomitmen untuk bergerak bersama dalam menghentikan rantai penyebaran TB-HIV ini.

Kedua, perlu adanya kesiapan untuk memeriksakan ko-infeksi TB dengan HIV ini, termasuk kaum muda. Setelah berhasil menemukan pasien ko-infeksi TB-HIV, kita pun perlu meyakinkan mereka bahwa kondisi mereka masih bisa diselamatkan. dengan pengobatan. Artinya, obatnya harus tersedia dan mudah diakses.

Ketiga, semua layanan yang disebutkan di atas harus tersedia di semua daerah di Indonesia. Pasalnya, justru di daerah-daerah terpencil di tanah air seperti di Papua angka ko-infeksi TB-HIV ditemukan tertinggi.

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

 

Referensi

1. TB Indonesia. “TB-HIV”. Diunduh dari http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv

2. U.S. Department of Health & Human Services. “How do you get HIV or AIDS?” Diunduh dari http://aids.gov/hiv-aids-basics/hiv-aids-101/how-you-get-hiv-aids

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s