TB: Si Perampok

Halo pembaca! Semoga tidak bosan dengan seri Sembuhkan TB ini, soalnya setiap edisi akan membuat kita semakin melek dengan TB. Seri kali ini sangat seru karena kita akan membahas bagaimana kuman tuberkulosis merampok manusia, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

TB sangat erat hubungannya dengan kemiskinan. Kondisi perumahan yang padat, sirkulasi udara yang buruk, sanitasi yang kurang, dan nutrisi buruk yang terjadi pada golongan ekonomi bawah adalah faktor risiko utama penularan TB. Hal ini menyebabkan TB menyebar dengan sangat cepat pada kelompok ekonomi rendah.

Salah seorang penderita TB dari kalangan ekonomi rendah. Sumber

Salah seorang penderita TB dari kalangan ekonomi rendah. Sumber

Tapi, ternyata TB juga bisa merampok loh. Ya, TB bisa membuat seseorang jadi miskin!

 

Kuman TB = Perampok? Yang bener aja?

Oke, jangan bayangkan kuman TB menyusup ke dalam rumah Anda tengah malam, tiba-tiba menodongkan pisau, dan membentak: “SERAHKAN UANG, ATAU ANDA AKAN TERINFEKSI!”

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, infeksi tuberculosis bisa terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu, baik bulu hidung maupun bulu kaki (baca: ‘Setiap hari Anda bertemu dengan pasien TB loh!’). Infeksi tuberculosis juga bisa menyebabkan kematian apabila tidak disembuhkan (baca: ‘Sembuhkan TB, kembalikan senyum mereka!’). Kebanyakan iklan layanan masyarakat menyatakan bahwa TB itu bahaya karena menular dengan cepat dan sangat merugikan kesehatan.

Sayangnya, belum banyak yang sadar bahwa infeksi ini juga membuat kerugian besar bagi keuangan. Padahal, beban ekonomi akibat TB ini besar loh.

 

Jelas ini bukan cara TB merampok korbannya.

Jelas ini bukan cara TB merampok korbannya.

Buka mata: Memangnya kenapa infeksi TB menjadi beban besar?

Pertama, perlu ditekankan perbedaan penyakit infeksi dengan penyakit jantung, stroke, kanker, dan penyakit lainnya. Penyakit jantung, stroke, atau kanker biasanya menyerang individual atau orang per orang. Memang, pasti akan ada unsur keturunan di dalamnya sehingga penyakit ini mungkin menyerang satu keluarga juga.

Bagaimana dengan tuberkulosis? Nah, TB memang menyerang orang per orang secara individual, tapi TB ini juga menular dengan cepat dari satu orang ke komunitasnya. Artinya, ketika kita bicara tentang infeksi TB di Indonesia, otomatis kita akan berbicara mengenai komunitas. Kita memikirkan tentang sebuah masyarakat, tentang penduduk Indonesia.

Memangnya, berapa sih penderita TB di Indonesia? Mungkin 100.000 jiwa? Atau mungkin 500.000 jiwa? Kalau kurang banyak, mungkin 1.000.000 jiwa deh? Itu sudah banyak sekali loh.

Di Indonesia, penderita TB ternyata diperkirakan berjumlah sebanyak 8,6 juta jiwa. Wow! Sebagai perbandingan, angka tersebut setara dengan jumlah dari seluruh penduduk di Kota Surabaya, Bandung, Medan, dan Semarang loh. Artinya, angka 8,6 juta jiwa itu sangat banyak!

Ketika TB sudah menyerang sebuah komunitas, maka ada beberapa beban ekonomi yang akan ditimbulkan. Di antaranya adalah:

1. Pengobatan TB butuh uang.

Orang sakit tentu butuh obat. Demikian juga dengan penderita penyakit TB, tentu memerlukan obat TB. Seperti yang sudah diketahui, pengobatan TB bisa didapat gratis di beberapa klinik yang sudah bekerjasama dengan pemerintah. (Baca: ‘Kencing Aja Bayar, Masa Obat TB Gratis?‘)

Ingat, obat TB ini sebenarnya tidak gratis, tapi dibiayai oleh pemerintah. Jadi, setiap kali ada pasien yang didiagnosis dengan TB, maka pemerintah Indonesia (dan beberapa negara lain) sudah berkomitmen untuk membiayai pengobatan tersebut sampai sembuh.

Semakin besar jumlah penderita TB di suatu negara, artinya negara tersebut harus menyediakan lebih banyak dana untuk membiayai pengobatan TB di negara itu. Belum lagi kalau ternyata ditemukan kasus TB resisten obat, tentunya memerlukan obat yang lebih mahal dan dalam waktu yang lebih lama (baca: ‘TB Kebal Bikin Sebal‘). Maka dari itu, prinsip ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ menjadi sangat penting dalam penanganan TB.

Walaupun bisa menjalani pengobatannya secara gratis, pasien TB pun tentu harus mengeluarkan biaya-biaya lain seperti biaya pemeriksaan, biaya transportasi, hingga biaya rawat inap apabila diperlukan. Hal ini kadang yang menjadi alasan finansial seorang pasien TB menghentikan pengobatannya.

Di India pernah dilakukan penelitian mengenai dampak ekonomi akibat TB, dan hasilnya cukup mengejutkan:

Beban TB pada ekonomi pasien. Diadaptasi dari sini

Beban TB pada ekonomi pasien. Diadaptasi dari  sini

Penelitian tersebut dilakukan pada 300 pasien, dan lebih dari sepertiganya mengaku mengalami gangguan ekonomi yang cukup berarti. Sebagian besar dari yang mengalami gangguan ekonomi tersebut mengaku uang tabungan untuk masa depannya menjadi berkurang karena harus membiayai proses pengobatan TB. Lebih menyedihkannya, sebagian dari mereka terpaksa harus meminjam uang, bahkan menggadaikan rumah demi membiayai pengobatan TB.

 

2. TB menjadi beban dalam pekerjaan.

Selain menghabiskan biaya untuk pengobatan, TB juga menyebabkan seseorang akan kesulitan dalam menjalani pekerjaannya. Mengapa? Karena ternyata 75% dari kasus TB  terjadi pada usia paling produktif, yaitu usia 15 hingga 54 tahun.

Pada kelompok usia ini, kesehatan adalah salah satu modal utama dalam melaksanakan pekerjaannya. Ketika kesehatannya terganggu akibat TB, mereka akan kesulitan dalam menjalani pekerjaan ataupun mencari pekerjaan.

Belum lagi stigma masyarakat akan penyakit TB yang menyebabkan penderitanya menjadi diasingkan oleh masyarakat, yang kemudian menyebabkan mereka semakin sulit dalam mencari pekerjaan.

WHO memperkirakan bahwa pasien TB rata-rata kehilangan tiga hingga empat bulan waktu kerjanya. Mereka juga bisa kehilangan hingga 30 persen dari pendapatannya akibat gangguan bekerja.

Penelitian di India mencoba mencari tahu dampak dari TB pada ketidakhadiran pasien di tempat kerja atau di sekolah, yang berarti menurunkan produktivitas mereka. Inilah hasilnya:

Beban TB pada produktivitas pasien, dinilai dari hilangnya hari kerja atau sekolah. Diadaptasi dari sini

Beban TB pada produktivitas pasien, dinilai dari hilangnya hari kerja atau sekolah. Diadaptasi dari sini

Grafik di atas menunjukkan hal buruk dan hal baik. Hal buruknya adalah, sekitar 79% pasien yang mengalami TB mengaku sempat tidak bisa datang ke tempat kerja. Hal yang serupa terjadi juga pada kelompok pelajar, yaitu 94% mengaku bahwa sempat tidak dapat pergi ke sekolah. Rata-rata ketidakhadiran pada kelompok kerja adalah 9,5 hari, sedangkan rata-rata ketidakhadiran pada kelompok pelajar adalah 10,9 hari.

Kabar baiknya, ketika pengobatan sudah dimulai, maka angka ketidakhadiran ini mulai berkurang. Angka ini bahkan berkurang secara signifikan ketika pasien tersebut sudah menjalani pengobatannya sampai selesai. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa TB memberi beban yang sangat besar pada produktivitas seseorang di tempat kerja, tapi ketika sudah diobati maka produktivitas pasien tersebut akan kembali dengan cepat.

 

3. Kematian akibat TB menjadi pukulan yang sangat besar secara ekonomi

Data di Indonesia mencatat bahwa 67.000 jiwa meninggal akibat TB setiap tahunnya. Artinya, dalam sehari ada 183 orang yang meninggal akibat TB. Kalau kita menghubungkan data ini dengan  kedua poin sebelumnya, kita bisa melihat bahwa beban akibat TB yang menyebabkan kematian ini menjadi berlipat ganda.

Sebagian besar kasus TB terjadi pada usia produktif. Tak jarang, mereka adalah kepala keluarga atau tulang punggung dalam keluarganya. Apabila pasien TB usia produktif ini meninggal, tentunya keluarga tersebut akan kehilangan sosok yang mendukung kondisi finansial keluarganya.

WHO mencatat, keluarga seorang pasien yang meninggal akibat TB akan kehilangan sekitar 15 tahun pendapatan.

4. Penelitian untuk obat TB memerlukan dana yang tidak kecil

Di artikel sebelumnya, kita sudah mempelajari bagaimana sejarah penemuan obat TB. Kita juga sudah menyadari bersama bahwa penelitian tentang obat anti TB menjadi sangat penting, karena kita masih terus mencari obat TB yang lebih ampuh, lebih aman, dan bisa digunakan dalam skala luas, apalagi untuk MDR-TB yang kebal dengan obat standar.

Jadi, ketika kita membicarakan mengenai beban ekonomi TB untuk riset obat, kita sudah berbicara bukan lagi dalam skala individu, daerah, atau kebijakan negara. Kita bicara mengenai kepentingan dunia.

 

Melek TB sekarang: Jangan biarkan TB merampok kita!

TB sudah terlalu kejam kepada kita. Selain membuat kita menderita dengan penyakitnya, membunuh penderitanya, kini kita sudah tahu bahwa kita ternyata juga dirampok oleh TB.

Apa yang akan kita lakukan bila kita rumah tetangga kita menjadi korban perampokan dan kita berhasil menangkap perampok tersebut?

Tentu saja kita akan menyerahkan si rampok kepada polisi, kemudian polisi akan memenjarakannya dan mengawasi agar tidak kabur, kemudian kita tentunya akan lebih waspada agar jangan sampai kejadian sama terulang lagi baik pada kita atau pada orang lain.

Dari sini, kita bisa analogikan apa yang bisa kita lakukan agar TB tidak merampok kita.

1. Tangkap si perampok. Deteksi dini menjadi sangat perlu di sini, karena kalau kita terlambat mendeteksi TB maka bisa jadi si perampok sudah mengambil terlalu banyak kesehatan kita!

2. Serahkan kepada polisi. Artinya, TB perlu diobati. Pengobatan TB ini bertujuan untuk memutus mata rantai penularan. Kalau kita berhasil menemukan perampok tapi tidak kita apa-apakan, bukankah itu percuma? Nah, hal sama bisa dianalogikan pada TB ini. Kalau ada orang yang sakit TB tapi tidak diobati, maka sia-sia deh kita mengetahui dia memiliki kuman TB!

3. Perhatikan terus si perampok, jangan sampai dia kabur! Nah, kuman TB ini adalah perampok yang lihai. Di artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai pengobatan TB yang tidak tuntas atau tidak rutin akan menyebabkan terjadinya kebal obat. Maka dari itu, perlu adanya pengawas minum obat.

Pengawas minum obat ini bisa dianalogikan seperti sipir yang memperhatikan si perampok itu. Kalau tidak ada yang memperhatikan, si perampok bisa kabur dan penangkapannya jadi sia-sia. Begitu juga pada TB, kalau tidak diawasi dan ternyata si pasien tidak minum obat dengan rutin, bisa dikatakan bahwa upaya pengobatannya jadi sia-sia.

4. Waspada jangan sampai kita jadi korban perampokan.

Siapapun bisa menjadi penderita TB. Di sisi lain, siapapun bisa menjaga dirinya sendiri agar tidak tertular dengan TB. Berikut adalah hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa terhindar dari TB, si perampok:

Upaya pencegahan TB, diadaptasi dari http://www.info.gov.hk/tb_chest/contents/c1212.htm

Upaya pencegahan TB, diadaptasi dari sini

Jadi, apakah kita masih mau membiarkan diri kita dirampok oleh sang TB?
Saya sih tidak. Semoga kita semua semakin tergerak untuk melawan TB bersama-sama.

Referensi

1. WHO. “The burden of tuberculosis: Economic burden”. Diunduh dari http://www.who.int/trade/distance_learning/gpgh/gpgh3/en/index7.html
2. TB Alliance. “Economic Impact of TB”. Diunduh dari http://www.tballiance.org/why/economic-impact.php
3. Ramya Ananthakrishnan, et. al. “Socioeconomic impact of TB on patients registered within RNTCP and their families in the year 2007 in Chennai, India.” Lung India, Vol. 29, No. 3, July-September, 2012, pp. 221-226. Diunduh dari http://medind.nic.in/laa/t12/i3/laat12i3p221.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s