Kisah So’e Menghadapi TB

Kasus TB di Indonesia seakan tiada henti. Siapa yang bertanggung jawab untuk menuntaskan tuberculosis?

“Pertanyaan apaan ini? Namanya juga masalah kesehatan, ya pastinya tanggung jawab Departemen Kesehatan RI, Rumah Sakit, serta Dokter dong!”

Mungkin demikian pikir Anda. Jika iya, saya tidak menyalahkan Anda sama sekali. Anda benar! Anda telah memikirkan suatu penyelesaian yang rapi dan terstruktur, maka Anda menjawab bahwa hal tersebut adalah tanggung jawab petugas kesehatan.

Setidaknya, itu adalah pikiran saya ketika akan menulis seri ketujuh dari #SembuhkanTB, yaitu “Peran Masyarakat dalam Pengendalian TB.” Apakah benar masyarakat bisa berperan menghadapi kasus seberat TB?

Sekarang, saya akan mengajak kita semua untuk berpikir dengan lebih sederhana lagi. Seperti dalam postingan sebelumnya, saya sangat suka bermain analogi. Jadi di sini pun saya akan mencoba menganalogikan pertanyaan pembuka saya dengan hal yang lebih manusiawi.

Saya sedang lapar. Siapa yang bertanggung jawab untuk menghilangkan kelaparan saya?

Kalau saya jawab Kementrian Pertanian, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (BULOG), atau koki di restoran high class sebagai pihak yang bertanggung jawab menghilangkan kelaparan saya, apakah saya salah?

Tentu saja tidak. Jawaban saya benar. Jawaban saya sangat sahih dan saya bisa memberikan seratus argumen untuk menguatkan pernyataan saya tersebut. Hanya saja, bukankah saya berpikir terlalu jauh untuk pertanyaan seperti itu?

Bukankah akan lebih cepat kalau saya belajar masak sendiri, lalu mulai mengolah bahan masakan yang ada di dapur saya? Kalaupun saya tidak bisa masak, bukankah jauh lebih efektif bagi saya untuk mulai mendeteksi lokasi warung bakso atau masakan Padang terdekat dari rumah saya?

Wah, ternyata begitu besar peran saya dan peran masyarakat dalam menyelesaikan kasus kelaparan yang saya alami!

Hal yang sama juga bisa dianalogikan dalam penanganan TB. TB adalah suatu kondisi yang kompleks yang memerlukan usaha bersama, bukan hanya bergantung pada Kementrian Kesehatan atau dokter dan Rumah Sakit saja. Usaha bersama ini justru paling banyak dipegang oleh masyarakat. Mulai dari deteksi penyakit (baca: Setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!), mengarahkan orang untuk berobat gratis (baca: Kencing aja bayar, masa obat TB gratis?), hingga mengawasi minum obat (baca: TB kebal bikin sebal).

Sampai sini, bisa dibilang bahwa artikel saya sudah selesai. Karena itulah poin yang ingin saya sampaikan: masyarakat memiliki peran besar dalam menghadapi TB.

 

Buka Mata: Mari Berbagi Cerita!

Saya bisa saja menuliskan ulang ketiga artikel pada tautan di atas untuk menunjukkan betapa besar peran masyarakat dalam menghadapi TB. Tapi, saya tidak akan melakukannya.

Saya akan bercerita. Saya akan membawa Anda ke sebuah tempat yang cukup jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta. Kita akan berkunjung ke sebuah daerah yang masih belum banyak didengar orang, yaitu So’e di Nusa Tenggara Timur.

 

April 2011, Nusa Tenggara Timur

Karena salah satu cara terbaik memahami sebuah masalah adalah dengan langsung terjun ke dalamnya

Karena salah satu cara terbaik memahami sebuah masalah adalah dengan langsung terjun ke dalamnya

Saya bersama tujuh dokter muda lainnya mengunjungi Nusa Tenggara Timur dalam rangka merancang dan melaksanakan sebuah penelitian di sana. Kami didampingi oleh dokter TP (salah satu staf dari departemen Ilmu Kedokteran Komunitas), dan satu orang penduduk asli dari daerah So’e yang akan kami kunjungi.

So’e adalah daerah pegunungan yang berjarak lima jam perjalanan dari Kupang, Ibu Kota NTT. Pesawat kami mendarat di NTT lalu kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis.

Ini bukan sekedar Colt Diesel. Sesuai stikernya, ini adalah The Next Generation Colt Diesel!

Ini bukan sekedar Colt Diesel. Sesuai stikernya, ini adalah The Next Generation Colt Diesel!

Karena So’e terletak di pegunungan, masa bisa dibayangkan perjalanan kami seperti lagu naik-naik ke puncak gunung. Yak, betul. Tinggi, tinggi sekali.

Bedanya, yang menarik perhatian saya sepanjang perjalanan bukanlah karena kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara, tapi kondisi jalan yang tidak terlalu cantik. Bahkan, di tengah perjalanan, kami harus berhadapan dengan longsor yang membuat akses dari Kupang ke So’e terputus total

Longsor ini sepanjang sekitar lima puluh meter dengan kedalaman sekitar lima meter. Satu-satunya jalan ke sisi seberang adalah dengan berjalan kaki melalui longsor tersebut

Longsor ini sepanjang sekitar lima puluh meter dengan kedalaman sekitar lima meter. Satu-satunya jalan ke sisi seberang adalah dengan berjalan kaki melalui longsor tersebut

Jadi, foto di atas memberikan gambaran mengenai kondisi medan yang kami hadapi

 

Apa spesialnya So’e, NTT sehingga diangkat dalam artikel ini?

Peta Nusa Tenggara Timur. Sumber dari http://www.goseentt.com/

Peta Nusa Tenggara Timur. Sumber dari http://www.goseentt.com/

Profil Kesehatan Indonesia tahun 2011 mencatat bahwa daerah Nusa Tenggara Timur adalah salah satu daerah dengan angka TB BTA+ yang tinggi, menduduki peringkat 14 dari 34 provinsi di Indonesia. Uniknya, Case Detection Rate daerah NTT ini tergolong rendah, menduduki peringkat 27 dari 34 provinsi.

Artinya, di NTT banyak kasus TB BTA+, tapi kemampuan untuk menemukan kasus tersebut rendah.

Ingat, NTT itu luas, dan So’e adalah salah satu daerah yang bisa dibilang masih terpencil. Ketika kita membicarakan Nusa Tenggara Timur, kita tidak membicarakan kota besar seperti Kupang. Kita membicarakan seluruh daerah secara umum. Kita membicarakan setiap kabupatennya.

So’e adalah daerah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kondisi jalan ke So’e ini menggambarkan bagaimana sulitnya akses manusia ke tempat tersebut. Kalau orang saja susah, bagaimana dengan barang? Bagaimana dengan obat? Bagaimana dengan peralatan medis?

 

Oh iya, saya belum bercerita mengapa kami bisa sampai ke sini. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kami melakukan penelitian di tanah So’e ini. Penelitian yang kami lakukan bukan tentang tuberculosis, tapi mengenai status gizi balita di So’e. Salah satu faktor risiko penyebab gizi kurang atau gizi buruk adalah penyakit TB pada anak. Maka dari itu, kami mengenal bagaimana kondisi TB di So’e ini.

Ini adalah salah satu hal menarik yang saya temukan di sana.

Puskesmas yang ramai

Posyandu yang ramai

Ini adalah salah satu posyandu di daerah tersebut yang menumpang pada sebuah gedung kosong. Loh, apa menariknya? Pemandangan yang biasa, bukan? Namanya posyandu ya harus ramai, bukan begitu?

Oke, kita ulang lagi, So’e ini terletak di daerah pegunungan, di mana rumah warga masih berjarak cukup jauh satu sama lain. Dengan transportasi umum yang terbatas, akses dari rumah warga ke posyandu tidak semudah berjalan ke minimarket dekat rumah Anda. Sebagian dari mereka harus menyewa ojek, sebagian bahkan menempuh jalan kaki selama tiga puluh menit untuk bisa sampai ke posyandu.

Semua itu hanya untuk menimbang anaknya dan mengisi Kartu Menuju Sehat (KMS). Dan, apabila ada keluarga atau anak yang menderita TB, mereka juga bisa mengambil obatnya secara rutin saat di posyandu tersebut.

Mereka tidak menggunakan facebook, BBM, atau whatsapp messenger. Tapi mereka bisa mengetahui jadwal posyandu dan mereka bisa mengetahui informasi-informasi kesehatan dengan baik. Tiap posyandu memiliki kader sendiri-sendiri yang memiliki keahlian menimbang bayi dengan benar, mengisi KMS, dan mendeteksi TB pada anak ataupun dewasa. Mereka bahkan bisa memantau pengobatan TB dengan baik.

Kok bisa daerah yang terisolasi memiliki kepengurusan yang demikian baiknya?

Pertanyaan ini menjadi bahasan kami di malam hari setelah kami menyelesaikan misi di posyandu tersebut. Ternyata, dokter TP telah memulai itu semua beberapa tahun lalu. Beliau berbagi cerita kepada kami. Berbekal dua hal, yaitu kecintaannya pada Indonesia dan ilmu kedokteran komunitas yang dipelajarinya, beliau memulai proyek pengentasan TB di satu desa.

Di desa tersebut, beliau merangkul warga sekitar. Beliau membangkitkan mereka agar bisa memberdayakan diri sendiri. Beliau mengumpulkan kader-kader setempat, lalu mengajarkan kepada mereka hal-hal sederhana seperti menimbang bayi, cara mengisi KMS, cara menjelaskan kepada masyarakat, sampai cara mengorganisasikan sebuah Posyandu.

Dokter TP memberikan pengarahan kepada para kader yang merupakan warga setempat

Dokter TP memberikan pengarahan kepada para kader yang merupakan warga setempat

Secara bertahap, beliau mulai berbagi kepada mereka cara mendeteksi tuberculosis dan penanganannya. Beliau menekankan betapa perlunya minum obat secara teratur. Beliau mengajarkan untuk mencatat pasien TB yang tidak mengambil obatnya pada waktu yang ditentukan dan mencari tahu kenapa pasien tersebut tidak datang.

Dengan cara sederhana ini, kasus TB yang selama ini tersembunyi berhasil ditemukan. Mereka yang sakit pun bisa diobati dengan akses lebih mudah dibandingkan harus menuju ke Puskesmas yang jaraknya puluhan kilometer. Semua itu hanya karena satu hal: masyarakat mulai memberdayakan dirinya sendiri.

Setelah membangun sistem yang baik di satu desa, beliau mulai menuju ke desa lainnya. Di desa tersebut pun beliau melakukan hal sama. Setelah itu, dia berangkat lagi ke desa lainnya, sampai-sampai hampir seluruh warga di desa-desa sekitar sudah mengenal dokter TP ini. Bahkan, dokter TP sudah diangkat sebagai keluarga oleh warga sekitar.

Kami melongo mendengarnya. Seorang asing nekat datang berkunjung ke daerah yang benar-benar baru dan terpencil. Berbekal ilmu yang dimiliki dan kecintaannya pada Indonesia, beliau berhasil menanamkan perubahan baik di situ. Terbukti, setelah beliau meninggalkan daerah tersebut untuk kembali ke departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, desa-desa tersebut sudah mandiri.

 

Melek TB Sekarang: Mulai Sekarang Juga!

Ketika menulis ini, saya jadi teringat sebuah kutipan indah dari Zig Ziglar, seorang motivator asal Amerika Serikat.

“You don’t have to be great to start, but you have to start to be great”

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa melibatkan masyarakat untuk menghadapi kasus sebesar TB hanyalah angan belaka. Namun, kisah yang saya bagikan di atas sekedar menceritakan bahwa kisah heroik keberhasilan masyarakat menghadapi penyakit komunitas seperti TB bukanlah mitos belaka.

Dan itu bukan karena sosok hebat seperti dokter TP semata. Itu karena masyarakat sendiri yang menyadari bahwa merekalah pihak yang paling bisa memberdayakan dirinya sendiri.

Kalau satu daerah bisa, pastinya daerah lain pun bisa. Yang kita perlu lakukan hanyalah memulainya sekarang juga.

 

Referensi:
Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Diunduh dari http://www.depkes.go.id/downloads/Profil2011-v3.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s