TB: Sebuah Kisah yang Disembunyikan

Ibu saya pernah menjadi pasien TB.

Beliau menceritakan hal itu kepada saya ketika saya sedang menjalani masa pendidikan di universitas. Mendengarnya, saya terkejut.

Yang membuat saya terkejut bukan karena memiliki anggota keluarga dengan penyakit tuberkulosis, tapi karena penyakit tersebut ternyata dialami sekitar tujuh tahun sebelum ibu menceritakannya pada saya.

Beliau menyembunyikan informasi tersebut ketika saya masih SD. Beliau minum obat secara rutin setiap hari secara diam-diam tanpa saya ketahui. Menurut ibu, beliau malu apabila orang-orang mengetahui dia terkena TB. Dia tidak mau orang lain, apalagi saya sebagai anaknya, mengetahui kalau ibunya memiliki penyakit TB.

Akhirnya saya bertanya: kejadian itu sudah berlangsung lama sekali ketika saya masih SD. Kenapa ibu saya tiba-tiba menceritakannya sekarang ketika saya sudah di bangku kuliah?

“Soalnya mama lihat, kamu udah batuk lama banget. Udah ada dua bulan,” jawabannya mengejutkan saya.

Saya tersadar. Memang ketika kejadian itu berlangsung, saya batuk cukup lama. Mungkin ada lebih dari satu bulan. Ibu saya pasti mendengar saya terbatuk hebat di malam hari. Kadang, saya batuk sangat kuat sampai hampir muntah.

Seingat saya, batuk saya tidak berdahak. Kalaupun ada, dahaknya sangat sulit keluar. Saya sudah minum banyak obat mulai dari kemasan tablet yang murah sampai sirup yang mahal, dan saya masih terbatuk-batuk. Melihat ini, ibu saya khawatir.

“Takut kamu ketularan mama,” katanya

Unmask Stigma, gerakan untuk menghilangkan stigma pada pasien TB

Unmask Stigma, gerakan untuk menghilangkan stigma pada pasien TB

Buka Mata: “TB itu memalukan!”

Demikian kata ibu saya kala itu. Menurutnya, menjadi pasien TB itu memalukan.

Beliau bercerita, di tempatnya tumbuh besar (daerah Bangka) apabila ada pasien yang diketahui TB maka secara otomatis seluruh masyarakat akan menjaga jarak. Pasien tersebut akan dikucilkan.

Saya tidak menanyakan alasannya, karena saya tahu jawaban yang akan saya dapat: TB itu penyakit kotor, penyakit orang miskin, dan orang yang terkena TB artinya tidak menjaga diri dengan baik.

Hal ini membuat saya tergelitik. Pada dasarnya, semua penyakit itu seharusnya memalukan, karena mengarahkan ke sebuah kondisi di mana kita mengabaikan kesehatan.

Uniknya, tidak semua penyakit mendapat porsi sama. Saya beberapa kali bertemu orang yang dengan bangga mengatakan, “wah, saya punya penyakit jantung. Sudah pasang ring dua biji. Habisnya berpuluh-puluh juta!”

"Ini adalah hasil investasi saya di restoran fastfood selama puluhan tahun!"

“Ini adalah hasil investasi saya di restoran fastfood selama puluhan tahun!” (sumber gambar)

Di sisi lain, saya belum pernah bertemu orang yang dengan bangga mengatakan dirinya pernah punya riwayat pengobatan TB. Sebagian dari mereka mungkin tersenyum mengatakan bahwa mereka pernah terkena TB dan telah berobat sampai sembuh, tapi tak seorangpun yang dengan bangga mengakui mereka terkena sakit TB.

Ibu saya tentu adalah salah satu orang yang tidak bangga pernah mengalami TB. Bahkan, dia adalah bagian dari orang yang masih menganggap TB itu memalukan walaupun dia pernah mengalaminya!

 

Mengapa mereka tersingkir?

Saya sudah mempelajari sesuatu dari kisah di atas: ketika kita mengusir, membenci, mendiskriminasikan, dan memandang jijik pasien TB (atau pasien HIV), sesungguhnya mereka pun setuju dengan kita. Mereka tidak ingin menjadi bagian dari orang yang sakit TB. Kalau bisa memilih, tentu mereka tidak akan mau memelihara kuman tuberculosis dalam tubuhnya.

Ketika kita menuduh mereka hidup tidak bersih, mungkin mereka sudah terlebih dahulu menyalahkan atau membenci dirinya sendiri.
Ketika kita takut tertular dari mereka, mungkin mereka sudah terlebih dahulu takut akan menularkan pada kita
Ketika kita menyingkir dari mereka, mungkin mereka sudah terlebih dahulu menyembunyikan diri atau anaknya dari sesamanya.
Mereka adalah korban utama dari kondisinya.

Seorang ibu dengan anak dengan TB. Sumber gambar

Seorang ibu dengan anak dengan TB. Sumber gambar

Penelitian yang dilakukan di India mencoba untuk mencari tahu mengenai mitos dan stigma seputar TB yang beredar di negara tersebut. Sebagai negara dengan penderita TB terbanyak, India menghadapi tantangan besar mulai dari deteksi, penyembuhan, hingga ke penghapusan stigma dalam masyarakat.

Di India, pasien TB sering mengalami penolakan dan isolasi sosial. Karena kurangnya pengetahuan seputar TB dan kekhawatiran akan diasingkan, penderita TB kadang menyembunyikan gejalanya sehingga berakibat TB tidak terdeteksi dan tidak bisa terobati.

Kurangnya pengetahuan masyarakat di India antara lain tentang cara penyebaran penyakit TB. Masih ada masyarakat yang menganggap TB ditularkan melalui jabat tangan atau berbagi makan dengan orang yang sakit. Kondisi ini menyebabkan orang dengan TB menjadi lebih mudah diasingkan. Lebih jauh lagi, ada yang percaya TB adalah penyakit menurun yang ditularkan secara seksual, sehingga pasien TB dianggap seperti ODHA, merek yang hidupnya ‘menyimpang’ dari adat normal.

 

Melek TB Sekarang: Zero Stigma, mulai dari kita!

Memangnya kenapa kalau mereka dapat stigma begitu? No big deal kan?

Sayangnya, ini adalah sebuah masalah besar. Ingat, dalam artikel sebelumnya kita sudah sepakat bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran TB adalah dengan bergerak bersama. Kita sudah membicarakan perlunya peran masyarakat dalam menghadapi perang melawan TB.

Satu yang sering terlewat oleh kita adalah, justru pihak yang paling perlu untuk digerakkan adalah pasien itu sendiri!

Pada bagian di atas, kita lihat bahwa pasien cenderung menyembunyikan penyakitnya. Hal ini akan mengakibatkan proses deteksi penyakit yang terhambat. Di sisi lain, dia juga menjadi sumber aktif penularan TB ke orang-orang di sekitarnya.

Kepercayaan umum lain yang beredar dalam sebagian masyarakat di India adalah bahwa TB tidak dapat disembuhkan dan obat yang tersedia saat ini berbahaya bagi pasien. Banyak yang masih percaya bahwa obat TB menyebabkan seseorang menjadi impoten atau mandul. Akibatnya, banyak orang yang berhenti minum obat karena takut akan mitos tersebut.

Ketika para pasien sendiri sudah menyerah sebelum berperang, maka kita menghadapi perang yang tidak akan bisa kita menangkan. Apabila kita tidak menang dalam perang ini, maka kita akan kehilangan senyuman orang-orang dengan TB selamanya (baca postingan saya sebelumnya: “Sembuhkan TB, Kembalikan Senyum Mereka!“)

Sumber gambar

Lihatlah: kembalinya senyuman pasien TB adalah senyuman paling indah yang bisa kita lihat. Sumber gambar

Hari ini juga, saya sudah memutuskan untuk menghapus stigma dari pasien TB.

Bagaimana dengan Anda?

 

Catatan akhir: 

Ini adalah seri terakhir dari delapan seri kampanye #SembuhkanTB oleh TB Indonesia. Semoga Anda menikmati membacanya, seperti saya menuliskan setiap kata di dalamnya.

Melanjutkan kisah pengantar di awal, saat itu akhirnya saya menjalani pemeriksaan sputum BTA (dahak) dan foto rontgent. Pemeriksaan tersebut dilakukan atas indikasi batuk lama dan kontak TB positif. Kedua pemeriksaan tersebut tidak menunjukkan bahwa saya mengalami TB.

Saya hampir menjadi pasien TB. Tapi, saya memutuskan bahwa hal tersebut tidak menghentikan pelayanan saya sehari-hari sebagai tenaga medis. Setiap bulan, saya masih bertemu dengan pasien TB di salah satu balai pengobatan murah tempat saya membantu.

Setiap bertemu dengan pasien-pasien terebut, yang bisa saya lakukan hanya satu: menuliskan resep obat sambil tersenyum, menatap mata mereka, dan berkata

“Tetap semangat, Pak. Pasti bisa sembuh”

Dan saya bisa menyaksikan bahwa perlahan-lahan, senyuman mereka kembali

 

Referensi:
1. Stop TB Partnership. “TB: Reach the 3 Million”. 2014. Diunduh dari http://www.stoptb.org/assets/documents/resources/publications/acsm/WORLD_TB_DAY_BROCHURE_14March.pdf
2. Anita Mathew. “Living with Tuberculosis: The Myths and the Stigma from the Indian Perspective”. Clin Infect Dis(2007) 45 (9):1247.doi: 10.1086/522312

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s