Uncategorized

TB: Sebuah Kisah yang Disembunyikan

Ibu saya pernah menjadi pasien TB.

Beliau menceritakan hal itu kepada saya ketika saya sedang menjalani masa pendidikan di universitas. Mendengarnya, saya terkejut.

Yang membuat saya terkejut bukan karena memiliki anggota keluarga dengan penyakit tuberkulosis, tapi karena penyakit tersebut ternyata dialami sekitar tujuh tahun sebelum ibu menceritakannya pada saya.

Beliau menyembunyikan informasi tersebut ketika saya masih SD. Beliau minum obat secara rutin setiap hari secara diam-diam tanpa saya ketahui. Menurut ibu, beliau malu apabila orang-orang mengetahui dia terkena TB. Dia tidak mau orang lain, apalagi saya sebagai anaknya, mengetahui kalau ibunya memiliki penyakit TB.

Akhirnya saya bertanya: kejadian itu sudah berlangsung lama sekali ketika saya masih SD. Kenapa ibu saya tiba-tiba menceritakannya sekarang ketika saya sudah di bangku kuliah?

“Soalnya mama lihat, kamu udah batuk lama banget. Udah ada dua bulan,” jawabannya mengejutkan saya.

Saya tersadar. Memang ketika kejadian itu berlangsung, saya batuk cukup lama. Mungkin ada lebih dari satu bulan. Ibu saya pasti mendengar saya terbatuk hebat di malam hari. Kadang, saya batuk sangat kuat sampai hampir muntah.

Seingat saya, batuk saya tidak berdahak. Kalaupun ada, dahaknya sangat sulit keluar. Saya sudah minum banyak obat mulai dari kemasan tablet yang murah sampai sirup yang mahal, dan saya masih terbatuk-batuk. Melihat ini, ibu saya khawatir.

“Takut kamu ketularan mama,” katanya

Unmask Stigma, gerakan untuk menghilangkan stigma pada pasien TB

Unmask Stigma, gerakan untuk menghilangkan stigma pada pasien TB

(more…)

Kisah So’e Menghadapi TB

Kasus TB di Indonesia seakan tiada henti. Siapa yang bertanggung jawab untuk menuntaskan tuberculosis?

“Pertanyaan apaan ini? Namanya juga masalah kesehatan, ya pastinya tanggung jawab Departemen Kesehatan RI, Rumah Sakit, serta Dokter dong!”

Mungkin demikian pikir Anda. Jika iya, saya tidak menyalahkan Anda sama sekali. Anda benar! Anda telah memikirkan suatu penyelesaian yang rapi dan terstruktur, maka Anda menjawab bahwa hal tersebut adalah tanggung jawab petugas kesehatan.

Setidaknya, itu adalah pikiran saya ketika akan menulis seri ketujuh dari #SembuhkanTB, yaitu “Peran Masyarakat dalam Pengendalian TB.” Apakah benar masyarakat bisa berperan menghadapi kasus seberat TB?

Sekarang, saya akan mengajak kita semua untuk berpikir dengan lebih sederhana lagi. Seperti dalam postingan sebelumnya, saya sangat suka bermain analogi. Jadi di sini pun saya akan mencoba menganalogikan pertanyaan pembuka saya dengan hal yang lebih manusiawi.

Saya sedang lapar. Siapa yang bertanggung jawab untuk menghilangkan kelaparan saya?

Kalau saya jawab Kementrian Pertanian, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (BULOG), atau koki di restoran high class sebagai pihak yang bertanggung jawab menghilangkan kelaparan saya, apakah saya salah?

Tentu saja tidak. Jawaban saya benar. Jawaban saya sangat sahih dan saya bisa memberikan seratus argumen untuk menguatkan pernyataan saya tersebut. Hanya saja, bukankah saya berpikir terlalu jauh untuk pertanyaan seperti itu?

Bukankah akan lebih cepat kalau saya belajar masak sendiri, lalu mulai mengolah bahan masakan yang ada di dapur saya? Kalaupun saya tidak bisa masak, bukankah jauh lebih efektif bagi saya untuk mulai mendeteksi lokasi warung bakso atau masakan Padang terdekat dari rumah saya?

Wah, ternyata begitu besar peran saya dan peran masyarakat dalam menyelesaikan kasus kelaparan yang saya alami!

Hal yang sama juga bisa dianalogikan dalam penanganan TB. TB adalah suatu kondisi yang kompleks yang memerlukan usaha bersama, bukan hanya bergantung pada Kementrian Kesehatan atau dokter dan Rumah Sakit saja. Usaha bersama ini justru paling banyak dipegang oleh masyarakat. Mulai dari deteksi penyakit (baca: Setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!), mengarahkan orang untuk berobat gratis (baca: Kencing aja bayar, masa obat TB gratis?), hingga mengawasi minum obat (baca: TB kebal bikin sebal).

Sampai sini, bisa dibilang bahwa artikel saya sudah selesai. Karena itulah poin yang ingin saya sampaikan: masyarakat memiliki peran besar dalam menghadapi TB.

 

Buka Mata: Mari Berbagi Cerita!

Saya bisa saja menuliskan ulang ketiga artikel pada tautan di atas untuk menunjukkan betapa besar peran masyarakat dalam menghadapi TB. Tapi, saya tidak akan melakukannya.

Saya akan bercerita. Saya akan membawa Anda ke sebuah tempat yang cukup jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta. Kita akan berkunjung ke sebuah daerah yang masih belum banyak didengar orang, yaitu So’e di Nusa Tenggara Timur.

 

April 2011, Nusa Tenggara Timur

Karena salah satu cara terbaik memahami sebuah masalah adalah dengan langsung terjun ke dalamnya

Karena salah satu cara terbaik memahami sebuah masalah adalah dengan langsung terjun ke dalamnya

Saya bersama tujuh dokter muda lainnya mengunjungi Nusa Tenggara Timur dalam rangka merancang dan melaksanakan sebuah penelitian di sana. Kami didampingi oleh dokter TP (salah satu staf dari departemen Ilmu Kedokteran Komunitas), dan satu orang penduduk asli dari daerah So’e yang akan kami kunjungi.

So’e adalah daerah pegunungan yang berjarak lima jam perjalanan dari Kupang, Ibu Kota NTT. Pesawat kami mendarat di NTT lalu kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis.

Ini bukan sekedar Colt Diesel. Sesuai stikernya, ini adalah The Next Generation Colt Diesel!

Ini bukan sekedar Colt Diesel. Sesuai stikernya, ini adalah The Next Generation Colt Diesel!

Karena So’e terletak di pegunungan, masa bisa dibayangkan perjalanan kami seperti lagu naik-naik ke puncak gunung. Yak, betul. Tinggi, tinggi sekali.

Bedanya, yang menarik perhatian saya sepanjang perjalanan bukanlah karena kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara, tapi kondisi jalan yang tidak terlalu cantik. Bahkan, di tengah perjalanan, kami harus berhadapan dengan longsor yang membuat akses dari Kupang ke So’e terputus total

Longsor ini sepanjang sekitar lima puluh meter dengan kedalaman sekitar lima meter. Satu-satunya jalan ke sisi seberang adalah dengan berjalan kaki melalui longsor tersebut

Longsor ini sepanjang sekitar lima puluh meter dengan kedalaman sekitar lima meter. Satu-satunya jalan ke sisi seberang adalah dengan berjalan kaki melalui longsor tersebut

Jadi, foto di atas memberikan gambaran mengenai kondisi medan yang kami hadapi

 

Apa spesialnya So’e, NTT sehingga diangkat dalam artikel ini?

Peta Nusa Tenggara Timur. Sumber dari http://www.goseentt.com/

Peta Nusa Tenggara Timur. Sumber dari http://www.goseentt.com/

Profil Kesehatan Indonesia tahun 2011 mencatat bahwa daerah Nusa Tenggara Timur adalah salah satu daerah dengan angka TB BTA+ yang tinggi, menduduki peringkat 14 dari 34 provinsi di Indonesia. Uniknya, Case Detection Rate daerah NTT ini tergolong rendah, menduduki peringkat 27 dari 34 provinsi.

Artinya, di NTT banyak kasus TB BTA+, tapi kemampuan untuk menemukan kasus tersebut rendah.

Ingat, NTT itu luas, dan So’e adalah salah satu daerah yang bisa dibilang masih terpencil. Ketika kita membicarakan Nusa Tenggara Timur, kita tidak membicarakan kota besar seperti Kupang. Kita membicarakan seluruh daerah secara umum. Kita membicarakan setiap kabupatennya.

So’e adalah daerah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kondisi jalan ke So’e ini menggambarkan bagaimana sulitnya akses manusia ke tempat tersebut. Kalau orang saja susah, bagaimana dengan barang? Bagaimana dengan obat? Bagaimana dengan peralatan medis?

 

Oh iya, saya belum bercerita mengapa kami bisa sampai ke sini. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kami melakukan penelitian di tanah So’e ini. Penelitian yang kami lakukan bukan tentang tuberculosis, tapi mengenai status gizi balita di So’e. Salah satu faktor risiko penyebab gizi kurang atau gizi buruk adalah penyakit TB pada anak. Maka dari itu, kami mengenal bagaimana kondisi TB di So’e ini.

Ini adalah salah satu hal menarik yang saya temukan di sana.

Puskesmas yang ramai

Posyandu yang ramai

Ini adalah salah satu posyandu di daerah tersebut yang menumpang pada sebuah gedung kosong. Loh, apa menariknya? Pemandangan yang biasa, bukan? Namanya posyandu ya harus ramai, bukan begitu?

Oke, kita ulang lagi, So’e ini terletak di daerah pegunungan, di mana rumah warga masih berjarak cukup jauh satu sama lain. Dengan transportasi umum yang terbatas, akses dari rumah warga ke posyandu tidak semudah berjalan ke minimarket dekat rumah Anda. Sebagian dari mereka harus menyewa ojek, sebagian bahkan menempuh jalan kaki selama tiga puluh menit untuk bisa sampai ke posyandu.

Semua itu hanya untuk menimbang anaknya dan mengisi Kartu Menuju Sehat (KMS). Dan, apabila ada keluarga atau anak yang menderita TB, mereka juga bisa mengambil obatnya secara rutin saat di posyandu tersebut.

Mereka tidak menggunakan facebook, BBM, atau whatsapp messenger. Tapi mereka bisa mengetahui jadwal posyandu dan mereka bisa mengetahui informasi-informasi kesehatan dengan baik. Tiap posyandu memiliki kader sendiri-sendiri yang memiliki keahlian menimbang bayi dengan benar, mengisi KMS, dan mendeteksi TB pada anak ataupun dewasa. Mereka bahkan bisa memantau pengobatan TB dengan baik.

Kok bisa daerah yang terisolasi memiliki kepengurusan yang demikian baiknya?

Pertanyaan ini menjadi bahasan kami di malam hari setelah kami menyelesaikan misi di posyandu tersebut. Ternyata, dokter TP telah memulai itu semua beberapa tahun lalu. Beliau berbagi cerita kepada kami. Berbekal dua hal, yaitu kecintaannya pada Indonesia dan ilmu kedokteran komunitas yang dipelajarinya, beliau memulai proyek pengentasan TB di satu desa.

Di desa tersebut, beliau merangkul warga sekitar. Beliau membangkitkan mereka agar bisa memberdayakan diri sendiri. Beliau mengumpulkan kader-kader setempat, lalu mengajarkan kepada mereka hal-hal sederhana seperti menimbang bayi, cara mengisi KMS, cara menjelaskan kepada masyarakat, sampai cara mengorganisasikan sebuah Posyandu.

Dokter TP memberikan pengarahan kepada para kader yang merupakan warga setempat

Dokter TP memberikan pengarahan kepada para kader yang merupakan warga setempat

Secara bertahap, beliau mulai berbagi kepada mereka cara mendeteksi tuberculosis dan penanganannya. Beliau menekankan betapa perlunya minum obat secara teratur. Beliau mengajarkan untuk mencatat pasien TB yang tidak mengambil obatnya pada waktu yang ditentukan dan mencari tahu kenapa pasien tersebut tidak datang.

Dengan cara sederhana ini, kasus TB yang selama ini tersembunyi berhasil ditemukan. Mereka yang sakit pun bisa diobati dengan akses lebih mudah dibandingkan harus menuju ke Puskesmas yang jaraknya puluhan kilometer. Semua itu hanya karena satu hal: masyarakat mulai memberdayakan dirinya sendiri.

Setelah membangun sistem yang baik di satu desa, beliau mulai menuju ke desa lainnya. Di desa tersebut pun beliau melakukan hal sama. Setelah itu, dia berangkat lagi ke desa lainnya, sampai-sampai hampir seluruh warga di desa-desa sekitar sudah mengenal dokter TP ini. Bahkan, dokter TP sudah diangkat sebagai keluarga oleh warga sekitar.

Kami melongo mendengarnya. Seorang asing nekat datang berkunjung ke daerah yang benar-benar baru dan terpencil. Berbekal ilmu yang dimiliki dan kecintaannya pada Indonesia, beliau berhasil menanamkan perubahan baik di situ. Terbukti, setelah beliau meninggalkan daerah tersebut untuk kembali ke departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, desa-desa tersebut sudah mandiri.

 

Melek TB Sekarang: Mulai Sekarang Juga!

Ketika menulis ini, saya jadi teringat sebuah kutipan indah dari Zig Ziglar, seorang motivator asal Amerika Serikat.

“You don’t have to be great to start, but you have to start to be great”

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa melibatkan masyarakat untuk menghadapi kasus sebesar TB hanyalah angan belaka. Namun, kisah yang saya bagikan di atas sekedar menceritakan bahwa kisah heroik keberhasilan masyarakat menghadapi penyakit komunitas seperti TB bukanlah mitos belaka.

Dan itu bukan karena sosok hebat seperti dokter TP semata. Itu karena masyarakat sendiri yang menyadari bahwa merekalah pihak yang paling bisa memberdayakan dirinya sendiri.

Kalau satu daerah bisa, pastinya daerah lain pun bisa. Yang kita perlu lakukan hanyalah memulainya sekarang juga.

 

Referensi:
Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Diunduh dari http://www.depkes.go.id/downloads/Profil2011-v3.pdf

TB: Si Perampok

Halo pembaca! Semoga tidak bosan dengan seri Sembuhkan TB ini, soalnya setiap edisi akan membuat kita semakin melek dengan TB. Seri kali ini sangat seru karena kita akan membahas bagaimana kuman tuberkulosis merampok manusia, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

TB sangat erat hubungannya dengan kemiskinan. Kondisi perumahan yang padat, sirkulasi udara yang buruk, sanitasi yang kurang, dan nutrisi buruk yang terjadi pada golongan ekonomi bawah adalah faktor risiko utama penularan TB. Hal ini menyebabkan TB menyebar dengan sangat cepat pada kelompok ekonomi rendah.

Salah seorang penderita TB dari kalangan ekonomi rendah. Sumber

Salah seorang penderita TB dari kalangan ekonomi rendah. Sumber

Tapi, ternyata TB juga bisa merampok loh. Ya, TB bisa membuat seseorang jadi miskin!

 

Kuman TB = Perampok? Yang bener aja?

Oke, jangan bayangkan kuman TB menyusup ke dalam rumah Anda tengah malam, tiba-tiba menodongkan pisau, dan membentak: “SERAHKAN UANG, ATAU ANDA AKAN TERINFEKSI!”

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, infeksi tuberculosis bisa terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu, baik bulu hidung maupun bulu kaki (baca: ‘Setiap hari Anda bertemu dengan pasien TB loh!’). Infeksi tuberculosis juga bisa menyebabkan kematian apabila tidak disembuhkan (baca: ‘Sembuhkan TB, kembalikan senyum mereka!’). Kebanyakan iklan layanan masyarakat menyatakan bahwa TB itu bahaya karena menular dengan cepat dan sangat merugikan kesehatan.

Sayangnya, belum banyak yang sadar bahwa infeksi ini juga membuat kerugian besar bagi keuangan. Padahal, beban ekonomi akibat TB ini besar loh.

 

Jelas ini bukan cara TB merampok korbannya.

Jelas ini bukan cara TB merampok korbannya.

(more…)

TB dan HIV: double trouble

Di artikel-artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai bagaimana TB menular, bagaimana penyembuhannya, sampai bagaimana kuman TB bisa kebal obat. Di artikel ini, kita akan membahas mengenai dua mikroorganisme yang sudah lama menjadi sahabat karib, tapi merupakan musuh bebuyutan kita yaitu virus HIV dan kuman Mycobacterium tuberculosis.

 

Lho, apa nyambungnya kuman TB sama virus HIV? 

Dari penampakan mereka berdua saja kita sudah tahu kalau mereka memiliki rencana jahat bagi umat manusia. (koleksi pribadi)

Dari penampakan mereka berdua saja kita sudah tahu kalau mereka memiliki rencana jahat bagi umat manusia. (koleksi pribadi)

Anda pasti sudah pernah mendengar kedua nama tersebut. Kuman TB, seperti yang sudah kita ketahui, adalah kuman kecil yang menyerang manusia secara keroyokan, terutama di paru. Akibatnya, orang tersebut berpotensi mengalami penyakit tuberculosis paru, dengan gejala batuk lama, berat badan turun drastis, tidak nafsu makan, sampai menyebabkan kematian, terutama apabila orang tersebut berada dalam kondisi kekebalan tubuh yang rendah.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah nama virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Orang yang terkena virus HIV ini akan mengalami penurunan kekebalan tubuh secara bertahap, sampai akhirnya mencapai tahap akhir yang dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Singkatnya, orang yang sudah berada di tahap AIDS ini kekebalan tubuh alamiahnya sudah sedemikian rendah sehingga sangat mudah terserang penyakit.

Bayangkan saja apabila ada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) sedang jalan di tempat umum, lalu ada orang batuk atau bersin ke arah mereka. Wah, tak lama kemudian ODHA ini bisa langsung tertular penyakit dari orang tersebut.

(more…)

TB Kebal Bikin Sebal

Saya punya sebuah cerita…

Suatu ketika, bumi diserang oleh sekelompok alien. Jumlah pastinya tidak ada yang tahu pasti, walau diperkirakan kawanan mereka ada sekitar dua puluhan orang, atau ekor, atau sosok, atau entah satuan apapun yang digunakan untuk menyebut mereka.

Gambar alien dipinjam dari sini

Gambar alien dipinjam dari sini (gambar hanya sebagai ilustrasi saja, alien asli mungkin lebih seram dari ini)

Kedatangan alien ini membuat kekacauan besar di muka bumi. Rakyat bumi ketakutan karena alien tersebut sangat ganas dan menyebabkan kematian pada banyak sekali penduduk bumi dalam waktu singkat. Maka itu, mereka memilih satu orang di antara mereka, orang yang paling kuat dan cerdas untuk melawan para alien tersebut.

Pemburu ini datang ke goa yang menjadi sarang para alien tersebut untuk mengusir mereka. Untuk berjaga-jaga, dia membawa sebuah pistol kecil dengan amunisi terbatas. Ketika sampai di gerbang sarang tersebut, sudah bisa diperkirakan bahwa para alien tidak senang dengan kehadiran pemburu ini. Mereka pun mulai melakukan perlawanan untuk mengusir pria tersebut.

Pemburu ini dengan cepat menghindari serangan dari para alien tersebut dan dengan sigap dia melepaskan timah panas ke arah para alien. Satu persatu alien mulai tumbang! Namun, karena pelurunya terbatas, pemburu ini pun berhenti melepaskan tembakan ke arah para alien. Alien yang tersisa tinggal berjumlah setengahnya, lalu mereka melarikan diri ke goa lain untuk bersembunyi.

Selama persembunyiannya, para alien ini mulai belajar dari kekalahan komplotan mereka sebelumnya. Mereka mulai mengembangkan organ tubuhnya. Selama beberapa hari mereka berupaya agar lapisan luar tubuhnya menjadi lebih keras dan tahan dengan peluru buatan manusia. Ketika mereka merasa sudah siap, para alien pun kembali menyerang desa para manusia.

Pemburu alien yang sudah memperkirakan kembalinya para alien tersebut kembali menghadang mereka dan dengan lincah dia menembakkan peluru demi peluru ke arah para alien tersebut. Tapi, tidak terukir senyum kemenangan di wajah pemburu tersebut.

Para alien telah kebal dengan pelurunya. Kulitnya yang keras telah mementalkan peluru-peluru tersebut. Timah panas yang dulu ampuh untuk menembus kulit mereka, kini bagaikan kapas yang teronggok lemah.

Gambar diambil dari sini.

Gambar diambil dari sini.

Pemburu ini pun tidak kehabisan akal. Dengan sigap dia langsung menuju ke tempat penyimpanan senjata, mengambil senapan mesin, lalu menembakkan senapan mesin tersebut secara bertubi-tubi ke para alien. Siasatnya berhasil! Satu persatu alien mulai lumpuh. Alien yang tersisa mulai melarikan diri. Pemburu ini tahu apa yang akan terjadi selanjutnya: alien yang gagal dihabisi tersebut akan menjadi makin kuat, dan si pemburu memerlukan senjata yang semakin kuat untuk melawan mereka. Hari ini dia menggunakan senapan mesin, sedangkan di waktu selanjutnya mungkin dia memerlukan bazooka untuk melawan mereka.

Dalam hatinya dia berpikir, andai saja dari awal dia menghabisi para alien tersebut ketika mereka masih lemah dengan senjata paling sederhana, maka hal ini tidak perlu sampai terjadi.

 

Buka mata: TB kebal obat mengancam kita!

Ganti istilah ‘alien‘ di atas menjadi ‘kuman TB‘, dan ganti istilah ‘senjata‘ menjadi ‘obat TB‘. Anda baru saja membaca sebuah analogi mengenai bagaimana terjadi kuman tuberculosis yang kebal terhadap obat.

Mengapa kuman TB bisa menjadi kebal terhadap obat-obatan yang seharusnya membunuh mereka? Beginilah kira-kira penjelasan singkatnya.

mengapa resisten

Tuberculosis disebabkan oleh bakteri. Maka dari itu, kita memberikan obat berupa antibiotik (misalnya dalam bentuk FDC yang sudah dibahas di artikel sebelumnya). Mekanisme normal yang seharusnya terjadi adalah sebagai berikut:

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

Nah, dalam beberapa kondisi, pengobatan TB mungkin belum selesai tapi sudah dihentikan. Hal ini memberi kesempatan pada kuman TB untuk menjadi lebih kuat dan kebal terhadap obat yang dulu hampir membunuhnya.
Kemudian, hal inilah yang terjadi:

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

 

(more…)

Sembuhkan TB, Kembalikan Senyum Mereka!

Anda hanya punya satu jalan akhir: kematian

Selamat datang di kota ini.

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Gambar dari http://hardluckasthma.blogspot.com/2012/07/history-of-tuberculosis-part-2.html

Kondisi pasien TB di masa lalu, La Miseria karya Cristóbal Rojas (1886). Sumber gambar dari sini.

Di hadapan Anda adalah seseorang yang memiliki penyakit infeksi pada parunya. Dia mengalami batuk disertai darah selama bertahun-tahun. Keluarganya telah membawanya ke semua ahli pengobatan di daerah tersebut, tetapi semuanya angkat tangan.

“Penyebabnya adalah bakteri yang sangat berbahaya,” kata dokter terakhir yang mencoba menanganinya. “Saya belum pernah bertemu dengan kasus seburuk ini.”

“Apapun akan kami berikan asal dokter bisa mengobatinya,” ucap anak mereka. Keluarganya tak bisa menahan isak tangis yang memilukan

“Maaf sekali,” dokter tersebut menggeleng kepalanya. “Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Tidak ada seorang pun yang pernah berhasil disembuhkan dari penyakit berbahaya ini.”

Semakin hari keadaan si pasien semakin melemah. Keluarganya hanya mendapatkan informasi bahwa kondisi ayah tercinta di keluarga mereka tersebut diakibatkan sebuah kuman bernama Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut berukuran kecil. Sangat kecil. Mata manusia tidak akan sanggup mengidentifikasi keberadaan kuman tersebut.

Namun, kuman kecil tersebut telah menumbangkan ayah mereka. Ayah mereka adalah seorang pekerja yang tangguh dan gigih dalam bekerja. Tanyakan kepada anak-anaknya, mereka akan mengatakan bahwa ayah mereka sangat gagah. Tapi, kini mereka harus menerima kenyataannya: sang ayah telah kalah oleh bakteri kecil yang tidak bisa disembuhkan.

 

Buka Mata: TB tidak bisa disembuhkan?

Cerita di atas hanya rekaan penulis saja. Tapi, percayakah Anda bahwa kondisi serupa di atas benar-benar mungkin terjadi? Benarkah kuman TB yang kecil tersebut tidak bisa disembuhkan, dan siapapun yang terkena kuman tersebut akan mengalami penderitaan dan kematian yang memilukan?

Jawabnya adalah ya, jika Anda hidup di abad ke-19. Pada masa itu, perkembangan dunia kedokteran belum sepesat sekarang baik dalam hal deteksi penyakit maupun dalam pengobatan. Akibatnya, pengetahuan akan TB pun sangat minim dan penyakit ini dianggap sangat mematikan dan berbahaya.

(more…)

Kencing Aja Bayar, Masa Obat TB Gratis?

“Dok, kalau ternyata nanti hasil pemeriksaan laboratorium saya menunjukkan kalau saya positif TB, apa yang harus saya lakukan dong?” tanya salah satu pasien saya di suatu balai pengobatan murah tempat saya bekerja.

“Sementara ini, kita memang masih harus menunggu hasil pemeriksaan dahak sebanyak tiga kali. Tapi, kalau seandainya memang terbukti positif, sebaiknya kita segera mulai pengobatan TB, Pak” balas saya.

“Obat TB itu yang harus diminum enam bulan itu ya, Dok? Lama juga ya…”

“Betul, Pak. Selama ini sih pasien-pasien saya yang lain banyak yang berhasil menyelesaikan pengobatannya. Kalau mereka bisa, saya yakin bapak pasti bisa juga”

“Bukan kenapa-kenapa, Dok. Saya lagi mikir, nanti gimana cara bayar obatnya. Enam bulan itu kan lama.”

“Oh, tenang saja. Obat TB itu gratis kok”

“Hah? Masa sih bisa gratis, Dok? Lah wong kencing saja bayar, masa obat TB bisa gratis?”


 

Itulah kelakar salah satu pasien saya ketika saya menginformasikan bahwa obat TB itu disediakan gratis. Setelah saya pikir-pikir, bapakini benar juga loh. Di dunia ini mana ada sih yang gratis? Kencing aja harus bayar, apalagi kesehatan? Di beberapa tempat di Indonesia (mulai dari WC mall hingga WC sekolah) kita masih harus membayar seribu hingga dua ribu perak setiap kali selesai menuntaskan karya seni (baca: pipis) di WC. Di Venezia, bahkan tarif WC adalah 3 euro atau sekitar 47.000 rupiah per hari.

Sebelum blog ini berubah menjadi iklan layanan masyarakat tentang WC umum, mari kita kembali membahas tentang TB. Di entry sebelumnya, kita telah membaca mengenai pasien TB ternyata ada di sekeliling kita. Kali ini kita bahas mengenai obatnya yuk!

ImageBeberapa lokasi membawa bisnis toilet umum ini menuju level berbeda. Sumber

(more…)

Setiap hari, Anda bertemu dengan pasien TB lho!

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah kuis iseng-iseng.

Bayangkan di hadapan Anda saat ini ada lima orang:

  1. Karyawan, 27 tahun, batuk 1 bulan, perokok aktif 1 bungkus sehari
  2. Tukang sapu jalanan, 33 tahun, batuk 1 bulan, kurus banget.
  3. Model, 17 tahun, cantik, langsing, batuk 1 bulan. Model tersebut masih single (oke, informasi ini nggak perlu sebenarnya),
  4. Dokter, 25 tahun, batuk 1 bulan, kurang tidur karena belakangan ini sering dinas malam
  5. Kakek 67 tahun, batuk 1 bulan, tinggal di pemukiman sempit dan padat.

5 orang

Di antara kelima orang tersebut, ada dua orang yang menderita tuberkulosis/TB. Pertanyaannya, siapa saja?

Anda punya waktu 1 menit untuk membaca lagi profil singkat kelima orang di atas dan menentukan siapa dua orang yang menderita TB.

. . .

. . .

Sudah?

 

Baiklah, kalau Anda mengatakan dua orang penderita TB itu adalah si tukang sapu jalanan dan si kakek, maka Anda sudah menjadi pelaku stereotiping terhadap pasien TB di negara ini.

Kenapa? Karena kuis di atas adalah pertanyaan jebakan. Jawaban yang benar adalah ‘tidak bisa ditentukan’.

Nah loh? Yuk kita simak pemaparannya di bawah ini.

(more…)

Buka mata. Melek TB sekarang.

Selamat datang di blog melek TB.

Blog ini dibuat dalam rangka memeriahkan kompetisi blog dengan bertema Temukan dan Sembuhkan Pasien TB

Blog sederhana ini akan memuat informasi seputar penyakit tuberculosis/TB. Postingan baru akan dimuat sesuai dengan jadwal dari kompetisi terkait.

 

Kenapa pilih nama ‘Melek TB’? Kenapa nggak yang lebih keren, seperti ‘Bumihanguskan Kuman TB Tanah Air demi Indonesia Bebas Batuk!’, kan lebih gagah?

Sederhana. TB adalah penyakit yang sudah ada di Indonesia sejak lama. Nyatanya, kita termasuk negara dengan populasi terinfeksi TB terbesar di dunia. Sayangnya, ini bukan hal yang bisa dibanggakan.

Lebih disayangkan lagi, masih banyak penduduk kita yang buta informasi kesehatan seputar TB ini, entah karena memang ketidaktahuan atau karena ketidakpedulian mengenai penyakit menular ini. Pada akhirnya, pasien TB menjadi korban ganda: sudah terinfeksi kuman TB, mereka malah diasingkan oleh masyarakat.

Berangkat dari hal tersebut, penulis mencoba untuk berpegang pada tagline berikut dalam penulisan:

Buka mata. Melek TB sekarang.

Lagipula, kalau pakai istilah bumihangus, bantai, musnahkan, kok kesannya kayak mau perang ya.

 

Apa sih hebatnya blog ini?

Bayangkan balon helium anak-anak warna-warni. Nah, seperti itulah blog ini: ringan, menarik, dan mudah dimengerti. Tidak akan banyak istilah medis yang membuat dahi berkerut. Tidak akan ada paragraf bertele-tele. Tidak akan ada pembaca menguap karena isinya yang datar dan membosankan.

KIta akan menyelami fakta TB di Indonesia melalui data, cerita, gambar, dan tentunya humor.

Semoga blog ini bisa mencapai visinya, yaitu membuat masyarakat yang melek internet juga menjadi melek TB.