gratis

Kencing Aja Bayar, Masa Obat TB Gratis?

“Dok, kalau ternyata nanti hasil pemeriksaan laboratorium saya menunjukkan kalau saya positif TB, apa yang harus saya lakukan dong?” tanya salah satu pasien saya di suatu balai pengobatan murah tempat saya bekerja.

“Sementara ini, kita memang masih harus menunggu hasil pemeriksaan dahak sebanyak tiga kali. Tapi, kalau seandainya memang terbukti positif, sebaiknya kita segera mulai pengobatan TB, Pak” balas saya.

“Obat TB itu yang harus diminum enam bulan itu ya, Dok? Lama juga ya…”

“Betul, Pak. Selama ini sih pasien-pasien saya yang lain banyak yang berhasil menyelesaikan pengobatannya. Kalau mereka bisa, saya yakin bapak pasti bisa juga”

“Bukan kenapa-kenapa, Dok. Saya lagi mikir, nanti gimana cara bayar obatnya. Enam bulan itu kan lama.”

“Oh, tenang saja. Obat TB itu gratis kok”

“Hah? Masa sih bisa gratis, Dok? Lah wong kencing saja bayar, masa obat TB bisa gratis?”


 

Itulah kelakar salah satu pasien saya ketika saya menginformasikan bahwa obat TB itu disediakan gratis. Setelah saya pikir-pikir, bapakini benar juga loh. Di dunia ini mana ada sih yang gratis? Kencing aja harus bayar, apalagi kesehatan? Di beberapa tempat di Indonesia (mulai dari WC mall hingga WC sekolah) kita masih harus membayar seribu hingga dua ribu perak setiap kali selesai menuntaskan karya seni (baca: pipis) di WC. Di Venezia, bahkan tarif WC adalah 3 euro atau sekitar 47.000 rupiah per hari.

Sebelum blog ini berubah menjadi iklan layanan masyarakat tentang WC umum, mari kita kembali membahas tentang TB. Di entry sebelumnya, kita telah membaca mengenai pasien TB ternyata ada di sekeliling kita. Kali ini kita bahas mengenai obatnya yuk!

ImageBeberapa lokasi membawa bisnis toilet umum ini menuju level berbeda. Sumber

(more…)